Brasil memang difavoritkan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Namun, Jepang datang sebagai lawan yang mengerikan bukan sekadar tim penggembira. Samurai Biru membawa modal yang tak bisa dipandang sebelah mata: mereka sudah tahu cara menjinakkan Tim Samba.
Kepastian pertemuan ini terwujud setelah Jepang mengakhiri fase grup sebagai runner-up Grup F. Hasil imbang 1-1 melawan Swedia di Stadion AT&T, Dallas, Jumat (26/6/2026), sudah cukup mengantarkan tim asuhan Hajime Moriyasu ke posisi kedua klasemen dengan koleksi lima poin. Sementara itu, Belanda merebut status juara grup setelah mengalahkan Tunisia 3-1 di pertandingan lain.
Swedia juga tetap berhak melangkah ke fase gugur. Meski hanya finis di peringkat ketiga dengan empat poin, mereka masuk dalam daftar delapan tim peringkat ketiga terbaik yang melanjutkan perjalanan di turnamen.
Di sisi lain, Brasil melaju sebagai pemuncak Grup C. Tim Samba mencatat dua kemenangan dan satu hasil imbang sepanjang penyisihan grup sebuah konsistensi yang menegaskan status mereka sebagai salah satu kandidat terkuat peraih trofi.
Namun, Jepang memiliki bekal berharga. Pada 14 Oktober 2025, Samurai Biru mencatat kemenangan dramatis atas Brasil dalam laga uji coba internasional. Saat itu, Jepang bangkit dari ketertinggalan dua gol sebelum membalikkan keadaan dan menang 3-2. Hasil tersebut menjadi bukti bahwa Brasil bukan lawan yang mustahil ditaklukkan, asalkan Jepang mampu bermain disiplin, efektif, dan memanfaatkan setiap peluang.
Kemenangan bersejarah itu tentu menjadi suntikan moral bagi skuad Hajime Moriyasu. Namun, atmosfer Piala Dunia jelas berbeda. Tekanan dan tensinya jauh lebih tinggi dibanding laga persahabatan. Brasil pun diyakini telah mempelajari pertemuan sebelumnya dan diperkirakan akan tampil lebih waspada agar tidak kembali menjadi korban kejutan.
Cedera Kurangi Kekuatan Jepang
Di balik optimisme itu, Jepang menghadapi persoalan serius. Beberapa pemain kunci dipastikan absen akibat cedera. Takumi Minamino, yang ikut mencatatkan namanya di papan skor saat mengalahkan Brasil pada 2025, harus menepi karena cedera serius. Kehilangan lain datang dari Wataru Endo, gelandang bertahan berpengalaman yang juga mengakhiri perjalanannya bersama tim nasional. Takefusa Kubo pun tidak dapat tampil, sehingga mengurangi kreativitas serangan Jepang.
Kondisi itu memaksa Hajime Moriyasu meracik komposisi baru. Kini harapan besar berada di pundak Daizen Maeda dan sejumlah pemain muda untuk menjaga asa melangkah lebih jauh.
Brasil Lebih Difavoritkan
Secara kualitas, Brasil masih berada di atas angin. Lima gelar juara dunia, kedalaman skuad yang merata, serta performa konsisten sepanjang fase grup menjadi alasan Tim Samba lebih diunggulkan. Meski demikian, Jepang dikenal memiliki organisasi pertahanan yang solid, disiplin tinggi, serta kemampuan melakukan transisi cepat dari bertahan ke menyerang. Karakter permainan seperti itulah yang berpotensi menyulitkan Brasil. Jika mampu bertahan rapat dan memanfaatkan peluang serangan balik secara efektif, Jepang berpeluang kembali menciptakan kejutan.
Rekor Impresif Kontra Tim Eropa
Selain modal kemenangan atas Brasil, Jepang juga datang dengan catatan statistik yang mengesankan. Data menunjukkan Samurai Biru kini tidak terkalahkan dalam 11 pertandingan beruntun melawan negara-negara Eropa. Rangkaian tersebut terdiri atas delapan kemenangan dan tiga hasil imbang. Catatan itu sekaligus menjadi rekor tak terkalahkan terpanjang Jepang menghadapi tim Eropa, melampaui rekor sebelumnya yang berlangsung dalam 10 pertandingan pada periode Mei 2006 hingga Mei 2009.
Artikel Terkait
Persija Jakarta Dikabarkan Rekrut Bek Timnas Kroasia Denis Kolinger
Australia Pastikan Tiket Fase Gugur Piala Dunia 2026, Dua Wakil Asia Lolos
Timothy Weah Jadi Nama Paling Dicari di Google Trends Global Saat Piala Dunia 2026
Marquez Incar Hattrick di Assen, Mulai Latihan Jumat dengan Percaya Diri