Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Masuk Tahap Akhir, Pemerintah Targetkan Produksi Massal 2026

- Jumat, 26 Juni 2026 | 13:12 WIB
Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Masuk Tahap Akhir, Pemerintah Targetkan Produksi Massal 2026

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan uji coba tabung Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram telah memasuki tahap ketiga dan ditargetkan rampung pada Juli hingga Agustus 2026. Jika tahap pengujian ini selesai, produksi massal tabung yang disebut sebagai yang pertama di dunia itu akan segera digenjot.

Bahlil menjelaskan, pengembangan CNG untuk rumah tangga merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap LPG 3 kg bersubsidi. Selama ini, tabung CNG berukuran 12 kg baru digunakan di sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka).

“Untuk konsumsi pengganti LPG 3 kg, sekarang kita masih dalam proses tes tabungnya, karena tabungnya itu kan tekanannya 200-250 bar, tinggi sekali. Dan sekarang lagi diuji coba tahap ketiga,” ungkapnya dalam konferensi pers di Tuban, Jawa Timur, Jumat (26/6).

“Insyaallah doain Juli ini atau Agustus sudah bisa kita selesaikan. Kalau itu baru selesai, baru kita bisa dorong secara massal untuk beberapa tempat yang bisa kita lakukan,” jelas Bahlil.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat meresmikan fasilitas Mini Liquefied Natural Gas (LNG) Plant PT Sumber Aneka Gas (SAG), anak usaha PT Super Energy Tbk (SURE). Fasilitas tersebut mengolah gas alam menjadi LNG dengan kapasitas produksi maksimal 55.300 ton per tahun. Selain LNG, pabrik ini juga menghasilkan LPG maksimal 9.800 ton per tahun dan kondensat maksimal 19.600 barel per tahun. Tersedia pula fasilitas CNG plant berkapasitas 6 MMSCFD.

“Saya tidak melihat besar atau kecilnya investasi atau produksinya. Tapi saya melihat ini adalah sebuah karya nyata dari sebuah perusahaan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan strategi kita. Apalagi ini menghasilkan LNG, LPG, kondensat, dan ada CNG juga,” tutur Bahlil.

Menurut Bahlil, di tengah ketidakpastian geopolitik global, hampir semua negara kini berupaya mengoptimalkan potensi energi yang dimiliki, sekecil apa pun. Indonesia pun tak terkecuali. Ia menyebut total konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi domestik tidak lebih dari 2 juta ton. Akibatnya, Indonesia harus mengimpor sekitar 6,5 hingga 7 juta ton LPG per tahun.

Dengan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel, kebutuhan devisa untuk impor LPG mencapai sekitar Rp 120 triliun. Namun, ketika konflik di Timur Tengah memanas, rata-rata ICP bisa melonjak ke level USD 90 per barel, sehingga negara kehilangan devisa hingga Rp 140-150 triliun.

“Total subsidi kita itu kurang lebih sekitar Rp 80-90 triliun terhadap LPG, angka-angka ini menunjukkan bahwa begitu besar ketergantungan kita kepada impor khususnya di sektor LPG,” tegas Bahlil.

Sebelumnya, Kementerian ESDM berencana mengimpor tabung CNG 3 kg dari China untuk keperluan pengujian atau proyek percontohan yang akan dimulai tahun ini. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman menjelaskan, pilot project akan dilakukan di kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang.

Namun, pemerintah terlebih dulu akan menuntaskan proses pengujian untuk memastikan aspek keselamatan. Proses ini membutuhkan pasokan tabung yang akan dipenuhi dari impor minimal 100 ribu unit.

“Kita sekarang fokus kepada proses pengujian. Proses ini butuh tabung yang real. Untuk bisa kita dapatkan tabung yang real, minimal kita harus pesan 100 ribu,” ungkap Laode saat ditemui di IPA Convex ke-50, Kamis (21/5).

Importasi tersebut, lanjut Laode, akan dilaksanakan oleh badan usaha pelaksana dengan skema bisnis ke bisnis (B2B). Meski demikian, ia enggan menyebutkan nama badan usaha yang ditunjuk. Pemerintah saat ini masih menyiapkan skema bisnis penjualan CNG tabung 3 kg yang digadang-gadang mampu menghemat anggaran negara hingga 30-40 persen dibandingkan LPG bersubsidi.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.