Di balai bambu sederhana di Kelurahan Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, para ibu berkumpul secara rutin. Mereka datang bukan sekadar untuk bersosialisasi, melainkan menyetorkan uang tabungan yang kelak akan digunakan merenovasi rumah. Ini adalah aktivitas rutin Komunitas Kalijawi, sebuah perkumpulan yang lahir pada 2012 dari inisiatif para perempuan yang tinggal di bantaran Sungai Gajahwong dan Winongo.
Nama Kalijawi sendiri merupakan akronim dari kali atau sungai Gajahwong dan Winongo. Komunitas ini terbentuk karena para anggotanya memiliki latar belakang persoalan yang serupa: status tanah yang tak kunjung jelas, ekonomi yang terbatas, sanitasi buruk, dan berbagai problem permukiman lainnya.
Ketua Kalijawi, Ainun Murwani (49), menjelaskan bahwa komunitasnya memiliki tiga program utama: penataan kampung, pemberdayaan perempuan, dan pengelolaan dana komunitas. Semua berawal dari ajakan sekelompok arsitek di Yogyakarta yang melakukan pemetaan kondisi di empat kampung. Para ibu di sana tertarik, dan dari situlah Kalijawi mulai bergerak.
“Akhirnya yang mengembangkan kegiatan ini adalah ibu-ibu. Jadi dari empat kampung itu bergerak ke kampung-kampung sebelahnya. Akhirnya kita dapat 14 kampung yang dipetakan,” kata Ainun saat ditemui, Jumat (26/6).
“Dari hasil pemetaannya tuh masalahnya sama, masalah yang paling urgen adalah tentang status lahan dan juga rumah tidak layak huni serta kondisi lingkungan yang buruk. Jadi sampah, sanitasinya buruk, gitu,” tambahnya.
Salah satu program andalan komunitas ini adalah renovasi rumah. Setiap anggota menabung Rp2 ribu per hari ke ketua kelompok masing-masing. Dua bulan sekali, satu rumah anggota kelompok akan direnovasi menggunakan uang yang terkumpul.
“Waktu itu ada hibah sekitar Rp300 juta, tapi kami merasa itu tidak cukup karena untuk menyelesaikan masalah RTLH di 14 kampung. Terus akhirnya kami sepakat untuk membuat program tabungan untuk renovasi,” ungkap Ainun.
Dana hibah itu tidak dibagikan begitu saja, melainkan digulirkan dan ditambah dengan swadaya masyarakat. “Jadi menabung sehari Rp2 ribu, kita bikin kelompok-kelompok kecil di 14 kampung terkumpul 15 kelompok. Ada 165 anggota karena satu kelompok itu ada 15 orang, gitu,” ucapnya.
Setiap dua bulan, tabungan per kelompok dicairkan. Rinciannya, uang tabungan anggota sebesar Rp1,2 juta ditambah dana hibah Rp1,8 juta. “Kami buat seperti arisan karena yang paling disenangi masyarakat arisan. Siapa yang dapat dia renovasi duluan,” kata Ainun.
Meski begitu, biaya renovasi sering membengkak hingga lebih dari Rp3 juta. Kekurangan itu ditutup secara swadaya oleh anggota. Sejak 2012, sudah 165 rumah berhasil direnovasi melalui program ini. “165 rumah yang program renovasi. Tapi, untuk program lanjutannya sampai sekarang sekitar ada 400-an rumah yang sudah berhasil direnovasi. Baik itu dengan subsidi dari Kalijawi maupun mandiri tanpa subsidi, tapi mereka mengakses pinjaman dari Kalijawi untuk renovasi rumah,” katanya.
Saat ini, anggota Kalijawi mencapai 278 kepala keluarga. Tak hanya di Yogyakarta, anggota juga tersebar di bantaran Sungai Gajahwong yang berada di Kabupaten Sleman. “Anggota-anggotanya warga-warga yang berada di sekitar bantaran sungai sama rel kereta api,” kata Ainun.
Mayoritas renovasi menyasar fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), serta perbaikan sirkulasi pencahayaan dan udara. Sebab, dulu ada warga yang setiap hari membeli obat pusing, dan ternyata penyebabnya adalah rumah yang pengap dan minim cahaya. “MCK, juga mereka nggak punya MCK,” tutur Ainun.
Selain renovasi, komunitas ini juga memberikan pelatihan manajemen keuangan keluarga. “Selalu kita tekankan bahwa masalah rumah ini adalah awal dari memperbaiki semuanya. Ketika rumahnya nyaman, sudah tidak berpikir lagi tentang kenyamanan tinggal kan? Berarti dia bisa berpikir mencari makannya lebih tenang, mencari akses yang lain lebih mudah, kayak gitu. Jadi kami percaya bahwa menyelesaikan masalah rumah itu bisa membuka akses ke yang lain, ekonomi, pendidikan, ke yang lain,” papar Ainun.
Perjalanan Kalijawi tak selalu mulus. Saat awal berdiri, banyak warga yang ragu dan menilainya sebagai investasi bodong. “Karena mereka kan masalah uang ya, padahal sistemnya udah kita buat bahwa uang itu dikumpulkan di kelompok. Kelompok ada bendahara, sekretaris, itu mengelola uang itu. Tapi mereka tetep kayak nggak percaya, ‘Wah ini investasi bodong,’ kayak-kayak gitu,” jelas Ainun.
Perlahan, ketika satu atau dua rumah berhasil direnovasi, warga lain mulai tertarik bergabung. Ke depan, Kalijawi berencana terus bergerak dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah. “Ke depannya pasti program renovasi rumah ini pasti akan terus kita lakukan. Kita juga akan bekerja sama dengan pemerintah, bahkan kita mengusulkan bahwa koperasi, ketika pemerintah memberikan bantuan, itu dikelola oleh koperasi,” ujarnya.
“Jadi si penerima manfaat ini disatukan dalam bentuk koperasi, supaya nanti ketika 5 tahun dilihat itu rumahnya nggak kembali kumuh. Karena mereka selain ada tabungan, selain itu juga ada peningkatan kapasitas, pemahaman tentang permukiman,” sambung Ainun.
Sudirah (52), salah satu anggota Kalijawi, merasakan langsung manfaat program ini. Ia bergabung sejak 2013. Saat terjangkit Covid-19 pada 2020, ia harus menjalani isolasi di rumah. Saat itulah rumahnya yang minim sirkulasi direnovasi. “Sekarang rumah saya jadi tinggi, kalau dulu sirkulasi udara kurang bebas. Nggak ada jendela, gentengnya juga pendek,” kata Sudirah.
“Jendela nggak ada, sumpek. Dulu saya dikarantina karena kena Covid toh. Saya mau dibawa ke rumah (isolasi) nggak mau. Terus sama Kalijawi dikasih bantuan renovasi rumah,” ungkapnya.
Selain tabungan renovasi, Kalijawi juga memberikan fasilitas pinjaman untuk pendidikan anak dan kesehatan melalui koperasi. “Dari koperasi bisa pinjam untuk pendidikan anak. Ada yang pendidikan, ada yang kesehatan,” kata perempuan yang sehari-hari berjualan kelontong ini.
Artikel Terkait
Celah Hukum di Balik Tanda Tangan Lansia: Saat Pikun Belum Dianggap Tak Cakap
Mahasiswa UIN Tulungagung Ditemukan Meninggal di Kos Usai Begadang Kerjakan Skripsi
Netanyahu Sebut Kesepakatan Damai dengan Lebanon Bersejarah, Menteri Kanan Justru Khawatir
Terapi Menulis untuk Lansia: Merawat Kognitif dan Meredakan Stres