Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menegaskan komitmen Indonesia dalam menjaga lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati di hadapan Raja Charles III. Pernyataan itu disampaikan dalam acara London Climate Action Week (LCAW) 2026, tepatnya pada Super-pollutant High-level Reception di Istana St. James, London, Selasa, 24 Juni 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Jumhur menyampaikan salam paling hangat dari Presiden Prabowo Subianto kepada Raja Charles. Mendengar nama Presiden Prabowo, wajah Raja Charles langsung berseri. Ia memuji komitmen Presiden Prabowo dalam memimpin Indonesia dengan fokus pada kesejahteraan rakyat dan pelestarian keanekaragaman hayati.
"Presiden Prabowo itu baik dan sedang berusaha keras menyejahterakan bangsa juga dengan memelihara keanekaragaman hayati di Indonesia," ujar Raja Charles.
Jumhur juga mengucapkan terima kasih atas dukungan Raja Charles selama ini terhadap upaya Indonesia dalam melestarikan lingkungan hidup. "Terima kasih selama ini telah mendukung Indonesia dalam upaya melestarikan lingkungan hidup," kata Jumhur.
Hubungan kedua pemimpin ini bukanlah sekadar pertemuan seremonial. Presiden Prabowo dan Raja Charles memiliki kesamaan visi yang kuat dalam hal pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Kepedulian Raja Charles terhadap hutan Indonesia sudah terbukti sejak lama. Pada 2008, saat masih menjadi Pangeran, ia berkunjung langsung ke Jambi untuk melihat kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan. Dalam kunjungan itu, ia tidak hanya menyaksikan proyek pelestarian hutan hujan tropis, tetapi juga menyoroti isu pembalakan liar yang terjadi di kawasan tersebut.
Kehadiran Menteri Jumhur di acara ini bukan kebetulan. Ia adalah salah satu dari sedikit menteri lingkungan hidup yang diundang khusus untuk menghadiri Super-pollutant High-level Reception, sebuah acara eksklusif yang mempertemukan para pemimpin dunia, tokoh lingkungan global, dan pembuat kebijakan iklim terkemuka. Dalam acara tersebut, Jumhur berdialog tentang berbagai penyebab super polutan atau pencemar utama, di antaranya emisi gas metana dan karbon hitam dari energi fosil.
Peserta lainnya termasuk Menteri Lingkungan Hidup Inggris Mary Creagh, Menteri Energi dan Iklim Inggris Ed Miliband, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, dan berbagai tokoh penting lainnya dari berbagai negara.
London Climate Action Week yang berlangsung dari 22 hingga 26 Juni 2026 ini menghadirkan ribuan peserta dari berbagai kalangan pemerintah, dunia usaha, LSM, akademisi, peneliti, dan anggota parlemen dari seluruh dunia. Mereka berkumpul untuk mencari solusi nyata mengatasi krisis iklim dan perubahan iklim yang semakin mengancam. Tema-tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari identifikasi pencemar terbesar bumi, transisi energi, hingga pelestarian keanekaragaman hayati.
Indonesia memiliki peran strategis dalam diskusi ini karena negara kita adalah megabiodiversitas terbesar di dunia, menggabungkan keanekaragaman hayati darat dan laut yang luar biasa kaya. Pertemuan ini menunjukkan bahwa Indonesia diperhitungkan di panggung dunia dalam isu lingkungan hidup. Presiden Prabowo dan timnya, termasuk Menteri Jumhur, tidak hanya berbicara tentang komitmen iklim, tetapi benar-benar mengambil tindakan nyata untuk melindungi hutan, laut, dan keanekaragaman hayati kita.
"Setiap keputusan yang diambil pemerintah dalam menjaga lingkungan adalah investasi untuk masa depan anak cucu kita. Bumi yang sehat adalah bumi yang bisa memberikan kehidupan yang layak bagi semua orang," ucap Jumhur.
Artikel Terkait
Maqashid Keluarga: Menggeser Ukuran Keluarga Ideal dari Legalitas ke Kesejahteraan Relasional
Kapolri Mutasi 1.121 Personel, 14 Kapolres di Sulsel Berganti
Ketika Pencapaian Berubah Jadi Ekspektasi: Standar Normal yang Terus Bergerak dan Dampaknya pada Cara Kita Menilai Hidup
Komunitas Kalijawi di Yogyakarta Renovasi 165 Rumah Kumuh lewat Tabungan Harian Rp2.000