Bagi Makassar, stadion bukan sekadar bangunan olahraga. Ia adalah simbol identitas, kebanggaan, dan rumah bagi PSM Makassar, salah satu klub tertua dan paling bersejarah di Indonesia. Namun, ironisnya, klub yang berdiri jauh sebelum kemerdekaan itu hingga kini belum memiliki kandang permanen yang layak di kota kelahirannya sendiri.
Suporter PSM telah bertahun-tahun hidup dalam gelombang harapan yang silih berganti. Mereka pernah menanti renovasi Stadion Andi Mattalatta, berharap pada pembangunan stadion baru, dan berkali-kali mendengar rencana besar yang tak kunjung terwujud. Kini, harapan itu kembali menyeruak dalam wujud baru: Stadion Untia.
Proyek ambisius yang digagas Pemerintah Kota Makassar ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat olahraga terbesar di Indonesia Timur. Namun, di tengah publikasi dan sosialisasi yang gencar, pertanyaan mendasar mulai mengemuka: kapan pembangunan fisiknya benar-benar dimulai? Kapan batu pertama stadion yang digadang-gadang sebagai rumah masa depan PSM itu akhirnya diletakkan?
Pertanyaan itu semakin relevan karena kalender telah menunjukkan pertengahan tahun 2026. Hingga saat ini, belum ada kepastian resmi mengenai jadwal peletakan batu pertama atau dimulainya konstruksi utama. Yang terlihat sejauh ini hanyalah proses persiapan.
Pemerintah Kota Makassar terus mematangkan konsep dan menawarkan proyek tersebut kepada calon investor. Keseriusan itu kembali terlihat dalam forum Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026, yang dihadiri delegasi dari berbagai negara sahabat. Di forum internasional tersebut, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara langsung memperkenalkan Stadion Untia sebagai salah satu proyek strategis yang ingin dikembangkan.
Bagi Munafri yang akrab disapa Appi stadion ini bukan sekadar arena sepak bola. Ia membayangkan sebuah kawasan terpadu yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur. Konsep yang diusung bahkan jauh lebih besar dari sekadar pembangunan stadion.
Pemerintah Kota Makassar menyiapkan konsep Sport Tourism Hub, kawasan olahraga modern yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas pendukung: area komersial, ruang hiburan, fasilitas publik, hingga pusat kegiatan ekonomi baru. Di atas lahan seluas sekitar 23 hektare di kawasan Untia, Kecamatan Biringkanaya, pemerintah ingin menghadirkan stadion berstandar internasional yang mampu menjadi tuan rumah berbagai pertandingan besar sekaligus menggerakkan roda ekonomi kota.
Appi memahami betul nilai strategis proyek ini. Sebagai mantan CEO PSM Makassar, ia mengetahui bagaimana gairah masyarakat Sulawesi Selatan terhadap sepak bola hampir tidak pernah surut. Di setiap musim, ribuan orang rela menempuh perjalanan jauh dari berbagai daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, hingga wilayah lain di Indonesia Timur hanya untuk menyaksikan PSM bertanding.
Namun, selama bertahun-tahun, antusiasme besar itu belum sepenuhnya didukung oleh fasilitas yang memadai. PSM pernah menjadi juara Liga Indonesia, tampil di level Asia, dan merupakan klub tertua di Indonesia yang masih eksis. Tetapi kota yang melahirkannya belum memiliki stadion modern yang benar-benar representatif.
Karena itulah, Stadion Untia tidak lagi dipandang sebagai proyek infrastruktur biasa. Ia telah berkembang menjadi simbol harapan baru: harapan bahwa PSM tidak lagi harus berpindah-pindah kandang, bahwa Makassar memiliki stadion yang layak menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia Timur, dan bahwa setiap anak yang mencintai sepak bola dapat melihat klub kebanggaannya bermain di stadion modern milik kotanya sendiri.
Meski demikian, perjalanan menuju harapan itu masih panjang. Saat ini proyek masih berada pada tahap persiapan dan pencarian dukungan investasi. Pemerintah Kota Makassar memang telah melakukan proses penimbunan lahan dan memperkenalkan proyek tersebut kepada investor potensial. Namun, belum ada pengumuman resmi mengenai kapan konstruksi utama dimulai atau kapan seremoni peletakan batu pertama akan dilaksanakan.
Situasi itu membuat publik berada dalam posisi menunggu menunggu kepastian yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan panjang proyek stadion di Makassar. Di satu sisi, langkah pemerintah menawarkan proyek tersebut kepada investor internasional menunjukkan keseriusan. Namun di sisi lain, masyarakat tentu berharap proses tersebut dapat segera memasuki tahap yang lebih konkret.
Bagi suporter PSM, gambar desain stadion dan presentasi investasi hanyalah awal dari cerita. Yang mereka tunggu adalah suara alat berat. Yang mereka nantikan adalah tiang-tiang pertama yang berdiri di atas lahan Untia. Sampai hari itu tiba, pertanyaan mengenai kapan batu pertama Stadion Untia akan diletakkan masih menjadi tanda tanya besar. Namun satu hal yang pasti, harapan terhadap stadion ini tidak pernah hilang. Ia adalah mimpi panjang yang diwariskan dari satu generasi suporter ke generasi berikutnya. Dan kini, di pertengahan tahun 2026, seluruh mata masih tertuju ke kawasan Untia, menunggu saat ketika mimpi itu akhirnya berubah menjadi kenyataan.
Artikel Terkait
Jepang vs Swedia: Laga Penentu Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia di Grup F
Muhammad Rahmat Pilih Bergabung ke Semen Padang yang Terdegradasi demi Misi Promosi ke Super League
Cacat Format Piala Dunia 48 Tim: Dua Laga Berpotensi Jadi Imbang Kolusif
Fenomena Drag Crisis pada Bola Trionda: Ketika Fisika Jadi Mimpi Buruk Kiper di Piala Dunia 2026