Dalam sebuah diskusi di Yogyakarta belum lama ini, Anies Baswedan mengajak hadirin membayangkan Jakarta dengan wajah yang sama sekali berbeda. Bayangkan, kata mantan Gubernur DKI itu, jika aturan zonasi ala Singapura, Manhattan, atau Shanghai diterapkan di ibu kota. Hasilnya? Hanya 20 hingga 33 persen lahannya yang dipakai untuk bangunan. Selebihnya, hampir tiga perempat wilayah Jakarta akan berubah menjadi ruang terbuka hijau.
"Kalau "zoning regulation" itu dipakai, maka Jakarta itu kawasan yang terpakai untuk bangunan gak lebih dari 25 persen. Yang 75 persen menjadi hijau," ujar Anies.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara School of Thought: Kota dan Krisis Ekologi di Ruang Literasi Kaliurang, Kamis pekan lalu. Rekaman diskusi itu kemudian diunggah ke kanal YouTube-nya pada Selasa ini. Menurut Anies, dengan standar Manhattan, sepertiga Jakarta akan jadi bangunan. Pakai aturan Shanghai, angkanya bahkan lebih ekstrem: cuma 20% untuk gedung, 80% untuk ruang hijau.
Perbandingan ini bukan sekadar angka. Ia mengetengahkan kritik tajam terhadap cara kita mengelola kota, yang dinilainya terlalu berat sebelah. Ekonomi selalu diutamakan, sementara ekologi kerap terabaikan. Bagi Anies, kota harus dilihat sebagai "rumah kehidupan", bukan cuma "mesin kegiatan ekonomi" belaka.
"Kalau dipandang sebagai rumah kehidupan, maka yang diurus bukan angka, tapi napas. Yang diurusnya napasnya. Kalau ini dipandang sebagai mesin untuk ekonomi, maka yang dipandang angkanya," tegasnya di hadapan ratusan peserta yang didominasi pelajar SMA.
Di sisi lain, Anies juga menyoroti sebuah pola yang menurutnya sudah mengakar sejak lama: budaya "meninggalkan masalah". Ia mengambil contoh dari sejarah. Dulu, saat kawasan Kota Tua mengalami penurunan tanah pada akhir 1700-an, solusinya adalah pindah ke selatan, ke Lapangan Banteng dan Istana Merdeka. Masalahnya tidak benar-benar dituntaskan.
""Attitude" kita ini bukan menyelesaikan masalah tapi meninggalkan masalah. Lalu ada yang punya ide lagi ini makin turun makin turun kita pindah saja ke pulau lain. Lah ini kan enggak menyelesaikan masalah," ucapnya dengan nada tegas.
Pembicaraan kemudian mengalir ke syarat mutlak sebuah kota: air. Anies mengajak audiens membuka Google Maps untuk melihat betapa Yogyakarta dan Magelang dipenuhi aliran sungai. Itulah sebabnya, kata dia, kawasan itu menjadi pusat peradaban sejak dulu kala.
"Magelang itu kota tertua di Nusantara. Itu dibangun karena ada pasokan air. Semua kota harus ada sungai. Jadi kalau ada orang pengin bikin kota di tempat yang tidak ada airnya, berarti dia tidak menghormati ilmu pengetahuan dan orang-orang tua kita semua," paparnya.
Persoalan keadilan ekologis pun tak luput. Anies menyayangkan sebuah ironi. Masyarakat yang kontribusinya paling kecil terhadap kerusakan lingkungan, justru paling awal merasakan dampak buruknya. Sebaliknya, pihak yang paling besar andilnya, seringkali paling terlindungi.
"Yang paling besar kontribusi terhadap kerusakan biasanya paling minim dapat efek atas kerusakan. Yang paling kecil nyumbang untuk kerusakan, dia yang paling pertama merasakan kerusakan," jelasnya, menyebut warga kampung di Jakarta dan Yogyakarta sebagai contoh yang paling rentan.
Laju urbanisasi Indonesia, menurut Anies, berjalan sangat masif. Data yang ia sebutkan cukup mencengangkan. Dari 42 persen penduduk kota di tahun 2000, angka itu melonjak jadi 64 persen pada 2023. Prediksinya, 75 persen penduduk Indonesia akan hidup di perkotaan pada 2030-2035 jauh lebih cepat dari perkiraan awal tahun 2050.
Menghadapi hal ini, Anies mengaku telah menyusun Karsa City Lab sebagai semacam panduan. Tujuannya agar kota-kota di Indonesia tidak mengulangi kesalahan Jakarta. Ia menekankan perlunya perubahan pola pikir, terutama dalam hal mobilitas. Penyediaan transportasi umum harus jadi tanggung jawab negara, bukan malah membebani warga dengan subsidi BBM dan kredit kendaraan pribadi.
Acara yang digelar di ruang milik aktivis Wilianta Hertanto ini dihadiri ratusan pelajar SMA yang mendapat izin khusus dari sekolah. Bagi Anies, datang ke Kaliurang terasa seperti pulang kampung. Rumahnya dulu ada di Jalan Kaliurang KM 5, dan ia pernah berkemah pertama kali di dekat Pondok Pandanaran saat masih duduk di bangku SD.
Artikel Terkait
Malam Takbiran Idul Adha di Kayong Utara Meriah, Mahfud MD dan Dasad Latif Hadiri Pawai Mobil Hias
Wali Kota Makassar Soroti Ketidaklolosan Calon Paskibraka Nasional 2026, Minta Seleksi Dilakukan Secara Fair
Pemuda di Jombang Alami Luka Parah Usai Petasan Meledak Saat Malam Iduladha
Petani Muda di Luwu Utara Jadi Korban Pembusuran saat Cari Pelaku yang Serang Adiknya, Dua Orang Diamankan