Sebuah laporan investigasi The New York Times pada akhir Februari 2026 mengungkap fakta yang cukup mencengangkan. Tim penyelidik internal Binance, bursa kripto raksasa itu, menemukan aliran dana digital senilai sekitar 1,7 miliar dolar AS. Uang itu mengalir dari dua akun di platform mereka menuju entitas di Iran yang diduga punya kaitan dengan kelompok teroris. Temuan ini, tentu saja, berpotensi melanggar rezim sanksi global yang berlaku.
Yang lebih memprihatinkan, investigasi itu menunjukkan bahwa dalam setahun sebelum skandal terungkap, individu-individu di Iran ternyata telah mengakses lebih dari 1.500 akun pengguna Binance. Ini jelas memperlihatkan celah pengawasan yang lebar. Padahal, ekosistem mereka selalu diklaim punya sistem kepatuhan berlapis dan canggih berbasis analitik blockchain.
Menurut dokumen internal yang dilihat oleh Times, para penyelidik langsung melaporkan temuan ini ke pimpinan puncak perusahaan. Namun, yang terjadi kemudian justru mengejutkan. Dalam hitungan minggu, setidaknya empat pegawai yang terlibat dalam penyelidikan itu diberhentikan atau diskors. Alasan resminya adalah pelanggaran protokol internal soal pengelolaan data klien. Langkah ini memunculkan banyak tanda tanya besar tentang seberapa independen sebenarnya fungsi kepatuhan di dalam Binance.
Laporan yang kemudian dikonfirmasi oleh Euronews itu memberikan detail lebih lanjut. Salah satu akun yang terlibat dalam aliran dana tersebut bahkan terkait dengan mitra fiat Binance. Analisis lebih mendalam menemukan fakta lain: sekitar 1,2 miliar dolar AS dalam dua tahun terakhir mengalir melalui sebuah entitas bernama Blessed Trust yang berbasis di Hong Kong. Tujuannya adalah jaringan dompet kripto yang memiliki keterkaitan tidak langsung dengan entitas yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Kelompok ini oleh AS dan sekutunya dikategorikan sebagai organisasi teroris.
Bukan cuma itu. Ada lagi perusahaan Hong Kong lain, Hexa Whale Trading Limited yang kini sudah bubar ternyata juga menggunakan Binance untuk mentransfer sekitar 490 juta dolar AS ke dompet yang diasosiasikan dengan entitas Iran. Sumber intelijen Israel bahkan mengindikasikan adanya dugaan keterkaitan dengan jaringan pendanaan kelompok Houthi di Yaman utara.
Dokumen internal yang sama juga mengungkap hal lain yang tak kalah serius. Penyelidik menemukan indikasi bahwa armada kapal kargo Rusia yang diduga berupaya menghindari sanksi internasional, memanfaatkan akun Binance untuk membayar gaji awak kapalnya. Ini memperlihatkan dengan jelas bagaimana infrastruktur kripto global bisa bersinggungan langsung dengan dinamika geopolitik dan permainan sanksi antarnegara.
Kontroversi ini sebenarnya bukan yang pertama. Binance pada 2023 lalu sudah mengakui pelanggaran aturan anti pencucian uang dan sanksi Amerika Serikat. Saat itu, mereka mengizinkan pengguna dari negara yang dikenai sanksi, seperti Iran, untuk mengakses platformnya. Jaksa federal mengidentifikasi sedikitnya 1,1 juta transaksi senilai hampir 900 juta dolar AS yang melanggar hukum.
Artikel Terkait
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat