Pembicaraan kemudian mengalir ke syarat mutlak sebuah kota: air. Anies mengajak audiens membuka Google Maps untuk melihat betapa Yogyakarta dan Magelang dipenuhi aliran sungai. Itulah sebabnya, kata dia, kawasan itu menjadi pusat peradaban sejak dulu kala.
"Magelang itu kota tertua di Nusantara. Itu dibangun karena ada pasokan air. Semua kota harus ada sungai. Jadi kalau ada orang pengin bikin kota di tempat yang tidak ada airnya, berarti dia tidak menghormati ilmu pengetahuan dan orang-orang tua kita semua," paparnya.
Persoalan keadilan ekologis pun tak luput. Anies menyayangkan sebuah ironi. Masyarakat yang kontribusinya paling kecil terhadap kerusakan lingkungan, justru paling awal merasakan dampak buruknya. Sebaliknya, pihak yang paling besar andilnya, seringkali paling terlindungi.
"Yang paling besar kontribusi terhadap kerusakan biasanya paling minim dapat efek atas kerusakan. Yang paling kecil nyumbang untuk kerusakan, dia yang paling pertama merasakan kerusakan," jelasnya, menyebut warga kampung di Jakarta dan Yogyakarta sebagai contoh yang paling rentan.
Laju urbanisasi Indonesia, menurut Anies, berjalan sangat masif. Data yang ia sebutkan cukup mencengangkan. Dari 42 persen penduduk kota di tahun 2000, angka itu melonjak jadi 64 persen pada 2023. Prediksinya, 75 persen penduduk Indonesia akan hidup di perkotaan pada 2030-2035 jauh lebih cepat dari perkiraan awal tahun 2050.
Menghadapi hal ini, Anies mengaku telah menyusun Karsa City Lab sebagai semacam panduan. Tujuannya agar kota-kota di Indonesia tidak mengulangi kesalahan Jakarta. Ia menekankan perlunya perubahan pola pikir, terutama dalam hal mobilitas. Penyediaan transportasi umum harus jadi tanggung jawab negara, bukan malah membebani warga dengan subsidi BBM dan kredit kendaraan pribadi.
Acara yang digelar di ruang milik aktivis Wilianta Hertanto ini dihadiri ratusan pelajar SMA yang mendapat izin khusus dari sekolah. Bagi Anies, datang ke Kaliurang terasa seperti pulang kampung. Rumahnya dulu ada di Jalan Kaliurang KM 5, dan ia pernah berkemah pertama kali di dekat Pondok Pandanaran saat masih duduk di bangku SD.
Artikel Terkait
Kembang Api dan Teriakan untuk Pahlavi Warnai Malam Teheran yang Masih Bergejolak
Gemblengan Semi-Militer Siapkan 1.500 Petugas Haji Tangguh
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan