Namun, ancaman dari luar justru dianggapnya lebih serius. Khamenei secara khusus menyinggung retorika dan ancaman militer Trump, termasuk pengiriman kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah.
"Amerika harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional," kata Khamenei dengan nada tegas. Ia berusaha menenangkan warga Iran, "Mereka tidak perlu takut."
Soal kapal induk yang dikerahkan AS itu, Khamenei menyindir, "(Trump) sering mengatakan bahwa dia mengirim kapal... Bangsa Iran tidak akan takut dengan hal-hal ini."
Menurut sejumlah laporan, demonstrasi besar di Iran awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi biaya hidup yang mencekik. Tapi gelombang kemarahan itu kemudian berubah jadi gerakan anti-pemerintah yang massif. Pihak berwenang Iran dengan cepat menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik "kerusuhan" ini.
Di tengah situasi mencekam ini, kabar soal latihan militer Iran di Selat Hormuz sempat beredar. Jalur pelayaran vital untuk pasokan energi global itu dikabarkan akan jadi lokasi latihan tembak langsung selama dua hari. Tapi kemudian, seorang pejabat Iran membantahnya pada hari Minggu, mengatakan Angkatan Laut IRGC tidak punya rencana latihan semacam itu.
Ali Larijani, pejabat keamanan teratas Iran, sebelumnya sempat menyebut bahwa negosiasi sedang berjalan. Tapi dengan peringatan perang dari pemimpin tertinggi dan sikap santai dari Gedung Putih, jalan menuju kesepakatan tampaknya masih panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Bahar bin Smith Resmi Jadi Tersangka Kasus Pengeroyokan Banser
Masjid Jadi Titik Terang di Tengah Reruntuhan Longsor Cisarua
Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Jadi Sorotan Gedung Putih
KPK Periksa Penilai Pajak dan Staf Perusahaan Terkait Dugaan Suap di Kantor Pajak Jakarta Utara