Ancaman Pistol Ussama Warnai Kisah Penyerahan Ressa, Anak Denada

- Minggu, 01 Februari 2026 | 08:50 WIB
Ancaman Pistol Ussama Warnai Kisah Penyerahan Ressa, Anak Denada

Gambar: Adegan dalam podcast yang membahas kasus keluarga Denada.

Desakan pada Denada untuk mengakui Ressa Rizky Rossano sebagai anak kandungnya terus bergulir. Tapi, ada satu nama lain yang muncul dalam pusaran cerita ini: Ussama Muhammad Al Haddar. Dia adalah ayah tiri Denada. Namanya disebut oleh tante Ratih, adik ipar Emilia Contessa, dalam podcast Curhat Bang Denny Sumargo.

Ratih-lah yang merawat Ressa sejak bayi itu baru berusia sepuluh hari.

Nah, dari cerita Ratih inilah terungkap sebuah momen mencekam. Saat niat serah terima Ressa hendak dilakukan dan konon bayi itu sempat "ditawar-tawarkan" Ussama disebut melakukan ancaman dengan senjata api. Ya, pistol.

Ussama sendiri merupakan suami ketiga Emilia Contessa, ibu kandung Denada. Mereka menikah pada 1994.

Sebelumnya, Emil sudah dua kali menikah. Pernikahan pertamanya dengan Rio Tambunan (1976-1983) melahirkan Denada dan Rico. Lalu, pada 1988, ia menikah dengan Abdullah Sidik Sukarty. Pernikahan yang hanya bertahan hingga 1992 itu dikaruniai seorang anak.

Kembali ke cerita intimidasi itu. Menurut Ratih, pihak Emilia dan suaminya saat itu, Ussama, punya keinginan khusus. Mereka tak mau bayi Ressa dirawat oleh keluarga besar, misalnya oleh adik kandung Emilia sendiri.

Bayi itu justru ditawarkan ke sejumlah orang. Tapi tetap saja, tak ada yang bersedia menerima.

Ronald, kuasa hukum Ressa, punya penilaian keras soal kejadian 24 tahun silam itu.

“Saat itu, ya mohon maaf saya tidak bermaksud, ada indikasi bahwa, mau membuang dia,” kata Ronald.
“Habis itu, namanya keluarga, gak tega lah istri saya ini anak ibu Ratih sudah mau bawa Ressa, sampai akhirnya diancam pakai pistol itu,” lanjutnya.

Denny Sumargo yang memandu podcast langsung menyelidik.

“Yang ancam siapa?” tanya Densu.
“Suaminya mbak Emil, Pak Ussama,” jawab Ronald dan Ratih serempak.
“Mungkin supaya gak terblow-up, biar gak chaos. Karena awalnya sudah ditawar-tawarkan. Istri saya saat itu masih SMA,” jelas Ronald.

Pada akhirnya, bayi Ressa ditawarkan juga kepada Ratih oleh Emilia Contessa sendiri.

“Ditawarkan ke beberapa orang. Satu orang bilang, ‘sudah punya anak laki, kalau perempuan aku mau’. Ah enggak, katanya, nanti jadi gak anak tunggal. Akhirnya, biar saya,” ujar Ratih mengenang.

Dan begitu, Ressa pun berpindah tangan.

Ratih mengaku, setelah penyerahan itu, komunikasi terputus sama sekali. “Tidak pernah dibiayai dari jauh, tidak ada kabar selama 24 tahun. Tante gimana kek, kabar Ressa gimana kek, WA kek. Gak ada,” katanya.

Awal mula pengasuhan itu sendiri penuh liku. Bayi mungil berusia sepuluh hari itu dibawa jauh dari Jakarta. Pertama ke Surabaya dengan pesawat, lalu melanjutkan perjalanan darat yang melelahkan menuju Banyuwangi.

Meski jauh, kabar kehamilan dan kelahiran Denada sudah terdengar hingga ke Banyuwangi. Apalagi anak pertama Ratih saat itu masih SMA, seusia Denada, dan mereka memang dekat.

Dalam podcast, Denny Sumargo meminta Ratih menceritakan detil penerimaannya.

“Waktu ibu terima dalam 10 hari, bisa diceritakan?” tanya Denny.
“Bisa,” jawab Ratih. “Jadi waktu itu, Ressa baru 10 hari. Saya kan sudah dengar dari anak saya yang pertama. ‘Ma, mbak Denada ngelahirin.’ Lho ngelahirin? Gimana, mati? Saya pikir keguguran. ‘Enggak, Mah, ada,’” cerita Ratih menirukan percakapan dengan anaknya kala itu.

Dan sejak percakapan itulah, perjalanan panjang Ressa dimulai.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar