Menjelang Ramadan, suasana berubah. Rutinitas harian perlahan bergeser, dan hal itu ternyata berdampak luas tak terkecuali pada cara orang menjaga kesehatan dan penampilan mereka. Menariknya, data dari platform layanan kesehatan digital Halodoc mengungkap tren yang cukup jelas: pembelian produk kesehatan dan kosmetik justru meningkat di periode pra-Ramadan.
Berdasarkan temuan sepanjang 2025, angka penjualan untuk produk kesehatan dan perawatan kulit melonjak hingga 15 persen. Kenaikan ini seolah jadi penanda bahwa masyarakat mulai lebih memperhatikan kondisi diri, menyambut perubahan pola hidup selama sebulan penuh berpuasa.
Produk Penanganan Jerawat Paling Laris
Nah, peningkatan paling mencolok justru ada di kategori perawatan kulit. Data Halodoc menunjukkan, penjualan di kategori ini naik 18 persen pada minggu terakhir sebelum Ramadan. Yang mengejutkan, angkanya malah terus merangkak naik 19 persen di minggu pertama puasa. Produk dengan kandungan aktif seperti benzoyl peroxide dan clindamycin topical, yang biasa dipakai untuk jerawat, jadi incaran utama. Permintaan untuk mikonazol, yang biasa mengatasi infeksi jamur kulit, juga ikut meroket.
“Kalau sudah bicara kecantikan, biasanya berkaitan dengan momen Lebaran. Orang ingin terlihat lebih glowing karena akan banyak bertemu alumni, teman lama, dan keluarga,”
Ujar Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc.
Ia menambahkan, banyak orang ternyata sudah mulai merawat diri lebih awal. Ini bentuk antisipasi terhadap perubahan kondisi tubuh dan kulit selama berpuasa.
Memang, selama Ramadan segalanya berubah: jam tidur, pola makan, hingga asupan cairan. Semua faktor itu rupanya punya pengaruh nyata pada kesehatan kulit. Makanya, produk skincare dan kosmetik sekarang tak cuma dilihat sebagai pelengkap penampilan. Lebih dari itu, ia jadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Tren ini sekaligus menunjukkan kesadaran masyarakat yang makin tinggi untuk menyesuaikan rutinitas perawatan dengan kebutuhan spesifik di bulan puasa.
Di sisi lain, data ini juga menggambarkan pergeseran cara pandang yang cukup signifikan. Kosmetik dan skincare di Indonesia kini tak lagi sekadar urusan estetika. Produk-produk itu dikaitkan dengan rasa nyaman dan kepercayaan diri dua hal yang sangat dibutuhkan saat menjalani ibadah sekaligus menghadapi intensitas aktivitas sosial yang meningkat jelang Lebaran.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Perpanjang Penahanan Richard Lee 30 Hari, Bantah Isu Penangguhan
Jumlah Mahasiswa Asing di China Melonjak Jadi 380.000, Didominasi Asia dan Afrika
Polisi Periksa Mantan ART Selama 2,5 Jam di Kasus Dugaan Penganiayaan Erin Taulany
Puasa Ayyamul Bidh Jatuh pada Jumat, Begini Hukumnya