BOGOR – Presiden Prabowo Subianto punya misi besar: mengganti atap seng yang berkarat itu dengan genteng. Ia meluncurkan program Gentengisasi, yang disebutnya sebagai langkah konkret untuk mempercantik pemandangan permukiman sekaligus meningkatkan kesejahteraan penghuninya. Targetnya ambisius, dalam tiga tahun ke depan Indonesia diharapkan terbebas dari atap seng.
Gagasan ini diumumkan dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, yang berlangsung di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin lalu. Menurut Prabowo, proyek ini adalah pilar utama dari Gerakan Indonesia ASRI, singkatan dari Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
Dalam pidatonya, ia tak sungkan mengkritik kondisi yang ia lihat sehari-hari. Dari kota besar hingga pelosok desa, pemandangan atap seng dinilainya sudah terlalu dominan dan jauh dari kata ideal.
"Salah satu dalam rangka indah, saya lihat saudara-saudara, semua kota, semua kota, kecamatan, hampir semua desa kita sekarang, maaf ya, terlalu banyak genteng dari seng," ujar Prabowo.
Presiden kemudian menjelaskan dua masalah utama. "Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng," tegasnya.
Ia bahkan menyentuh soal ketergantungan pada industri aluminium, yang menurutnya perlu dipertanyakan. "Maaf, saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya. Maaf, bikin yang lain-lain, deh," imbuhnya dengan nada khas.
Keinginannya sederhana tapi monumental: semua rumah di Indonesia beralih ke genteng. Inilah yang ia sebut proyek gentengisasi nasional. Untuk mewujudkannya, Koperasi Merah Putih akan jadi ujung tombak dengan dilengkapi fasilitas produksi genteng.
"Alat-alat genteng itu, alat pabrik genteng itu tidak mahal. Jadi nanti koperasi-koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng. Genteng itu bahan bakunya dari tanah dan dengan dicampur dengan beberapa zat limbah lainnya bisa ringan dan kuat," paparnya.
Selama penjelasan, layar di belakangnya menampilkan visualisasi yang cukup jelas: perbandingan rumah sebelum dan sesudah digentengi. Prabowo pun secara terbuka menantang para kepala daerah untuk ikut serta.
"Ini serius ya. Bupati, wali kota yang tidak mau kotanya indah terserah. Yang mau ayo bersama kita bikin kotamu indah, bikin kecamatanmu indah, bikin desamu indah. Bagaimana?" ajaknya, memancing respons.
Di sisi lain, ia juga bernostalgia dengan material atap tradisional seperti rumbia dan ijuk yang lebih sejuk. Namun, penolakannya terhadap seng tetap tegas. Baginya, karat adalah simbol kemunduran, bukan kemajuan.
"Saya mengajak ini sangat penting, turis dari luar untuk apa dia datang melihat seng berkarat. Karat itu lambang degenerasi," ujarnya dengan penuh semangat.
Pidatonya ditutup dengan seruan yang berapi-api. "Saya berharap dalam 2-3 tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat. Karat adalah lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan. Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah, rakyat kita harus bahagia!"
Suasana di ruangan pun langsung bergemuruh. Tampak jelas, program ini bukan sekadar wacana, tapi sudah jadi prioritas yang akan segera digeber.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020