"Alat-alat genteng itu, alat pabrik genteng itu tidak mahal. Jadi nanti koperasi-koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng. Genteng itu bahan bakunya dari tanah dan dengan dicampur dengan beberapa zat limbah lainnya bisa ringan dan kuat," paparnya.
Selama penjelasan, layar di belakangnya menampilkan visualisasi yang cukup jelas: perbandingan rumah sebelum dan sesudah digentengi. Prabowo pun secara terbuka menantang para kepala daerah untuk ikut serta.
"Ini serius ya. Bupati, wali kota yang tidak mau kotanya indah terserah. Yang mau ayo bersama kita bikin kotamu indah, bikin kecamatanmu indah, bikin desamu indah. Bagaimana?" ajaknya, memancing respons.
Di sisi lain, ia juga bernostalgia dengan material atap tradisional seperti rumbia dan ijuk yang lebih sejuk. Namun, penolakannya terhadap seng tetap tegas. Baginya, karat adalah simbol kemunduran, bukan kemajuan.
"Saya mengajak ini sangat penting, turis dari luar untuk apa dia datang melihat seng berkarat. Karat itu lambang degenerasi," ujarnya dengan penuh semangat.
Pidatonya ditutup dengan seruan yang berapi-api. "Saya berharap dalam 2-3 tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat. Karat adalah lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan. Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah, rakyat kita harus bahagia!"
Suasana di ruangan pun langsung bergemuruh. Tampak jelas, program ini bukan sekadar wacana, tapi sudah jadi prioritas yang akan segera digeber.
Artikel Terkait
Paradise Indonesia Pacu Pendapatan Berulang, Bidik 75% dari Total Pemasukan pada 2026
APBN Siap Danai Gerakan Gentengisasi Prabowo untuk Perbaiki Pemandangan Indonesia
Hauling Road RMKE Pacu Kinerja, Target Angkut 2026 Naik 50%
Di Tengah Gempuran Baterai LFP, IBC Yakin Masa Depan Nikel Indonesia Tetap Cerah