Di Tengah Gempuran Baterai LFP, IBC Yakin Masa Depan Nikel Indonesia Tetap Cerah

- Senin, 02 Februari 2026 | 17:48 WIB
Di Tengah Gempuran Baterai LFP, IBC Yakin Masa Depan Nikel Indonesia Tetap Cerah

Di tengah maraknya baterai Lithium Ferro-Phosphate (LFP) yang tak butuh nikel, prospek bijih nikel Indonesia ternyata masih cerah. Begitulah keyakinan yang disampaikan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC). Menariknya, optimisme ini justru muncul saat pangsa pasar baterai berbasis nikel seperti NMC disebut-sebut sedang tertekan.

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, tak menampik fakta itu. Dalam rapat bersama Komisi XII DPR, Senin (2/2), ia mengakui bahwa teknologi LFP memang mendorong turunnya permintaan untuk baterai jenis Nickel Manganese Cobalt (NMC).

"Kalau lihat posisi teknologi hari ini, banyak analis memproyeksikan market share katoda NMC tertekan. Tekanannya datang dari katoda jenis ferro-phosphate atau yang kita kenal sebagai LFP," ungkap Aditya.

Namun begitu, ada sisi lain yang justru memberi angin segar. Aditya menilai, secara volume, permintaan katoda NMC tetap akan naik seiring melonjaknya kebutuhan kendaraan listrik. Artinya, nikel masih punya pasar yang luas di industri baterai global.

Belum lagi, munculnya teknologi baru seperti baterai sodium-ion. Jenis ini menggantikan lithium dengan natrium yang lebih murah, tapi ternyata masih membutuhkan nikel.

"Kami masih sangat optimis bisa memasarkan baterai ion lithium berbasis katoda nikel kami. Apalagi, dalam waktu dekat, yang akan terkomersialisasi adalah baterai sodium ion. Di situ, litium diganti natrium agar lebih murah," jelas Aditya.
"Nah, teknologi untuk baterai sodium-ion hari ini, salah satu kandidat kuatnya masih berbasis nikel. Terutama nikel, besi, dan mangan," imbuhnya.

Belum berhenti di situ. Tren ke depan juga mengarah ke solid state battery, di mana elektrolit padat kandidat utamanya lagi-lagi memanfaatkan nikel. Dengan berbagai perkembangan ini, Aditya merasa yakin pasar global masih terbuka lebar untuk nikel Indonesia.

Tapi tentu, jalan menuju pasar internasional tidak mulus. Tantangan terbesarnya ada di harga. Sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia dihadapkan pada dilema: ingin harga bahan baku tinggi, tapi produk turunannya harus tetap kompetitif.

"Agar bisa bersaing secara global, kita harus cost competitive. Dari sudut pandang Indonesia yang punya tambang, kita ingin harga nikelnya tinggi. Tapi harga nikel yang tinggi justru bisa membuat produk turunannya ikut mahal," tutur Aditya.

Meski harga nikel dunia sedang melandai, IBC bertekad tak mau terjebak fluktuasi pasar. Caranya? Dengan berinovasi menciptakan ekosistem baterai yang lebih efisien, salah satunya lewat kepemilikan teknologi dan pemotongan rantai industri.

"Kita tidak bisa bergantung pada volatilitas harga nikel ke depan. Harus ada inovasi agar proses industri lebih efisien, misalnya dengan memotong rantai, sehingga cost-nya bisa kita cut," tegasnya.

Pabrik di Karawang Sudah Punya Pembeli

Di sisi lain, kabar baik datang dari proyek konkret mereka. Pabrik baterai dalam Proyek Dragon kerja sama PT Antam, IBC, dan konsorsium CBL dari China sudah mendapatkan peminat atau offtaker. Perusahaan patungan yang dibentuk bernama PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).

"Saat ini untuk pabrik yang di Karawang itu sudah memiliki offtaker semua, alhamdulillah," ujar Aditya.

Fasilitas produksi Battery Cells, Module & Pack yang sedang dibangun itu rencananya punya kapasitas awal 6,9 GWh pada fase pertama. Nantinya akan diekspansi hingga 15 GWh. Prinsip mereka jelas: harus ada komitmen pembeli dulu sebelum investasi dilakukan.

Pabrik yang groundbreaking-nya dilakukan Juni 2025 dengan investasi Rp 7 triliun ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III 2026. Sebuah langkah nyata yang perlahan mulai menjawab optimisme tadi.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler