Muslim Arbi: Prabowo Bisa Dapat Dukungan Publik dengan Revisi Posisi Polri

- Selasa, 27 Januari 2026 | 13:00 WIB
Muslim Arbi: Prabowo Bisa Dapat Dukungan Publik dengan Revisi Posisi Polri

Prabowo Dapat Dukungan Rakyat Jika Polri Ditaruh di Bawah Kementerian, Kata Muslim Arbi

Wacana soal penataan ulang posisi Polri kembali mencuat. Kali ini, pengamat politik dan hukum Muslim Arbi yang menyorotinya. Gagasannya cukup tegas: menempatkan kepolisian di bawah kementerian justru bisa memperkuat demokrasi. Menurut dia, langkah seperti ini juga berpotensi besar mendapat dukungan publik, apalagi di era pemerintahan Prabowo Subianto sekarang.

Selama ini Polri berada langsung di bawah Presiden. Konfigurasi seperti itu, bagi Muslim Arbi, menyimpan persoalan serius. Bukan cuma soal struktur, tapi lebih ke relasi kuasa yang berbahaya. Risiko penyalahgunaan kekuasaan atau abuse of power jadi lebih besar.

“Kepolisian yang langsung berada di bawah Presiden rawan disalahgunakan sebagai alat kekuasaan. Dalam banyak kasus, polisi bisa menjadi perpanjangan tangan kepentingan politik penguasa,”

ujarnya kepada wartawan, Selasa lalu.

Memang, pasca-reformasi dulu, Polri dipisah dari TNI. Tujuannya mulia: membangun institusi yang profesional dan independen. Tapi nyatanya, penempatannya di bawah Presiden malah menciptakan konsentrasi kekuasaan yang terlalu besar di satu tangan. Relasi ini melemahkan mekanisme kontrol. Presiden kan bukan cuma kepala pemerintahan, dia juga figur politik dengan kepentingannya sendiri. Akibatnya, Polri berisiko terseret ke dalam pusaran politik praktis.

Kita lihat saja pengalaman publik belakangan ini. Persepsi ketidaknetralan aparat sering muncul saat momen-momen politik genting entah itu pemilu, pilkada, atau saat pemerintah dikritik. Persepsi itu, sedikit demi sedikit, menggerus kepercayaan.

Nah, Muslim Arbi menegaskan, ide menempatkan polisi di bawah kementerian sebenarnya bukan hal aneh. Justru di banyak negara demokrasi yang mapan, model ini sudah diterapkan. Tujuannya jelas: menjaga profesionalisme.

Ambil contoh Inggris, Jepang, atau Jerman. Di sana, kepolisian umumnya berada di bawah kementerian dalam negeri atau kementerian khusus yang menangani urusan sipil. Tentu saja, penempatan ini dibarengi sistem pengawasan berlapis dari parlemen sampai lembaga independen.

“Di negara-negara itu, polisi justru bekerja lebih humanis, profesional, dan akuntabel. Karena ada jarak yang jelas antara kepentingan politik kepala negara dan kerja teknis kepolisian,”

kata Muslim.

Dalam sistem seperti itu, kementerian berperan sebagai pengelola kebijakan, bukan pengendali operasional harian. Jadi, polisi tetap independen secara profesional, tanpa menjadi institusi super power yang kebal dari pengawasan.

Menurut Muslim Arbi, Presiden Prabowo sekarang punya momentum strategis untuk melakukan reformasi kelembagaan yang berani. Dengan mandat politik yang kuat, dia dinilai punya ruang gerak luas untuk membenahi institusi negara. Tidak perlu terjebak kalkulasi elektoral jangka pendek.

Kalau Prabowo berani menata ulang posisi Polri, itu akan dibaca rakyat sebagai keberpihakan pada supremasi hukum, bukan pada kekuasaan.

Langkah seperti itu juga bisa menepis kekhawatiran publik soal penggunaan aparat untuk kepentingan politik tertentu. Untuk jangka panjang, reformasi ini diyakini bisa mengembalikan marwah Polri sebagai pelindung masyarakat.

Soal polisi ini bukan isu elitis. Ia nyentuh langsung kehidupan sehari-hari rakyat mulai dari tilang di jalan, penanganan kriminal, sampai konflik agraria. Makanya, reformasi Polri punya resonansi sosial yang luas.

Muslim Arbi yakin, mayoritas rakyat akan mendukung Prabowo jika reformasi ini dijelaskan dengan terbuka. Rakyat, katanya, tidak anti-polisi. Yang ditolak itu praktik kesewenang-wenangan dan ketidakadilan.

“Rakyat ingin polisi yang adil, tidak tebang pilih, tidak tajam ke bawah tumpul ke atas. Reformasi struktural adalah pintu masuknya,”

tegasnya.

Ada yang khawatir langkah ini justru melemahkan Polri. Tapi kekhawatiran itu dinilai tidak berdasar. Justru sebaliknya, dengan struktur yang sehat, Polri akan lebih fokus pada tugas utamanya: menegakkan hukum dan melayani publik. Bukan jadi alat kekuasaan atau institusi yang kebal kritik.

Bagi Prabowo, ini lebih dari sekadar urusan administrasi. Ini ujian kepemimpinan. Mau terus pertahankan model lama yang problematik, atau berani melangkah ke tata kelola yang lebih demokratis?

Sejarah nanti yang akan mencatat. Siapa pemimpin yang berani membenahi institusi penegak hukum demi rakyat dan masa depan demokrasi.

“Dan jika langkah itu diambil, dukungan rakyat bukan sesuatu yang mustahil melainkan keniscayaan,”

pungkas Muslim Arbi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar