10 Tahun Jokowi dan Transisi ke Prabowo: Mengungkap Ilusi Kekuasaan di Balik Istana yang Tak Pernah Sirna

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 07:00 WIB
10 Tahun Jokowi dan Transisi ke Prabowo: Mengungkap Ilusi Kekuasaan di Balik Istana yang Tak Pernah Sirna

Bayang-Bayang Ilusi di Istana Negara: Kritik Kekuasaan Tanpa Nurani

Ketika kekuasaan kehilangan nurani, istana hanya menjadi panggung bayangan, dan rakyat menonton kebohongan yang diulang dengan wajah baru. Refleksi politik Indonesia ini ditulis oleh M. Isa Ansori, akademisi dan pengamat sosial-politik.

Paradoks 10 Tahun Pemerintahan Joko Widodo

Sepuluh tahun pemerintahan Joko Widodo meninggalkan sejarah penuh paradoks. Di satu sisi, pembangunan fisik massif seperti jalan tol, bandara, dan kereta cepat Whoosh menjadi sorotan. Namun di sisi lain, politik pencitraan perlahan menggantikan makna kepemimpinan sejati. Janji kemandirian nasional seperti mobil Esemka menghilang tanpa jejak, sementara proyek Whoosh meninggalkan utang dan ironi ekonomi. Mesin pertanian yang diagungkan justru menekan pengusaha kecil, dan janji lapangan kerja berubah menjadi statistik yang tak menjawab realitas pasar tenaga kerja.

Transisi Kekuasaan ke Prabowo Subianto

Kini, dengan transisi kekuasaan ke Presiden ke-8 Prabowo Subianto, bayangan ilusi kekuasaan belum sirna. Para menteri berbicara tentang kecerdasan buatan yang konon akan menciptakan 90 juta lapangan kerja, padahal jutaan buruh kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Narasi pembangunan dikemas dengan kata "investasi", namun rakyat semakin sadar siapa yang paling diuntungkan. Kekuasaan seperti cermin bengkok yang hanya memantulkan wajah indah dari dalam istana.

Filosofi Kekuasaan dalam Tradisi Jawa

Dalam filosofi Jawa, kekuasaan digambarkan sebagai wahyu keprabon - cahaya suci yang hanya turun kepada pemimpin yang benar dan adil. Namun ketika wahyu ini disalahgunakan untuk gengsi pribadi, kekuasaan berubah menjadi ilusi ilahiyah palsu. Istana yang semestinya menjadi pusat kesadaran spiritual bangsa, kini berubah menjadi panggung sandiwara citra dimana kebohongan dirias dengan bahasa pembangunan.

Politik Tanpa Moral dan Spiritualitas

Ketika politik kehilangan nurani, kejujuran hanya menjadi hiasan pidato. Kekuasaan menciptakan realitas semu dimana rakyat percaya bukan karena bukti, tapi karena terus disuguhi bayangan yang menenangkan. Tragedi politik Indonesia modern terletak pada pembangunan infrastruktur megah yang kehilangan kejujuran sederhana. Kita memuja pemimpin pandai berjanji, sementara ketimpangan dan penderitaan tetap menebal di sudut-sudut kota dan desa.

Spiritualitas Kekuasaan sebagai Amanah

Dalam perspektif spiritual, kekuasaan adalah amanah Tuhan yang datang dengan tanggung jawab moral. Filosofi eling lan waspada mengajarkan pemimpin untuk selalu sadar asal dan tujuan kekuasaannya. Pemimpin sejati bukan yang paling sering muncul di televisi, tetapi yang paling tenang menanggung beban rakyatnya. Bukan yang paling pandai berbicara, tetapi yang paling jujur mendengar.

Menemukan Kembali Nurani Kekuasaan

"Bayang-Bayang Ilusi di Istana Negara" merupakan peringatan bahwa setiap kekuasaan tanpa nilai Ilahi akan kehilangan arah moral. Negara yang dibangun di atas kebohongan akan tumbuh tanpa jiwa. Sebelum bangsa ini tenggelam dalam ilusi, kita perlu menyalakan kembali cahaya nurani - mulai dari hati setiap warga, untuk melahirkan pemimpin yang hidup dalam terang kebenaran, bukan bayangan.

M. Isa Ansori
Penulis, Akademisi, Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua ICMI Jatim dan pengamat sosial-politik. Aktif menulis refleksi tentang kekuasaan, moralitas publik, dan spiritualitas politik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar