Archworks X UPJ Ubah Stigma Arsitektur Elitis Lewat Festival Interaktif di Bintaro

- Rabu, 06 Mei 2026 | 01:15 WIB
Archworks X UPJ Ubah Stigma Arsitektur Elitis Lewat Festival Interaktif di Bintaro

Stigma kaku yang selama ini melekat pada dunia arsitektur coba dirombak menjadi ruang dialog yang lebih terbuka dan inklusif. Upaya ini melibatkan mahasiswa, komunitas, hingga masyarakat umum dengan harapan agar arsitektur tidak lagi terkesan elitis, melainkan dapat dikenal dan dirasakan langsung oleh publik. Gagasan tersebut terwujud dalam penutupan gelaran Archworks X Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) yang berlangsung di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten.

Acara tahunan mahasiswa Arsitektur dan Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPArs) UPJ ini mengusung pendekatan interaktif yang jauh dari kesan formal. Ketua Pelaksana Archworks X, Agnes Claudia, menegaskan bahwa arsitektur tidak semata-mata soal bangunan fisik.

“Arsitektur tidak hanya soal bangunan, tapi juga bagaimana ruang bisa dirasakan dalam aktivitas sehari-hari,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa, 5 Mei 2026.

Senada dengan hal tersebut, Pembina Himpunan PPArs UPJ, Ar. Lutfi Aulia Makarim, menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membuka ruang dialog yang lebih lebar antara akademisi dan warga. “Kami ingin masyarakat juga bisa memahami arsitektur sebagai bagian dari kehidupan mereka,” ungkapnya.

Mengusung tema Designing Presence: Space, Memory, and Belonging, rangkaian acara yang telah berlangsung sejak 6 April 2026 ini diisi dengan simposium, lokakarya, hingga kompetisi desain. Pada puncak acara penutupan, suasana kampus UPJ disulap menjadi festival interaktif yang menghadirkan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lomba mewarnai untuk anak-anak, serta kegiatan memancing bersama di area Plaza Riverside.

Pendekatan ini dirancang agar arsitektur terasa lebih membumi melalui sesi diskusi terbuka bertajuk TERAS (Temu Relasi Arsitektur). Dengan memanfaatkan berbagai area kampus secara fleksibel, Archworks X menunjukkan bagaimana sebuah ruang dapat ‘hidup’ dan menyatu dengan aktivitas harian masyarakat, bukan sekadar menjadi objek yang diam dan jauh dari keseharian.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar