Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, Pemerintah Sebut Tekanan Akibat Faktor Global dan Musiman

- Rabu, 06 Mei 2026 | 01:00 WIB
Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, Pemerintah Sebut Tekanan Akibat Faktor Global dan Musiman

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke level terendahnya, menembus batas psikologis Rp17.400 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (5/5), dipicu oleh kombinasi tekanan global dan faktor musiman di dalam negeri. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp17.424 per dolar AS. Pelemahan ini tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di berbagai negara lain akibat penguatan dolar AS secara global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah merupakan fenomena yang meluas. “Terkait rupiah, berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (5/5).

Pemerintah mengidentifikasi setidaknya dua faktor musiman yang memperberat posisi rupiah. Pertama, lonjakan permintaan valuta asing untuk keberangkatan jemaah haji. Airlangga menjelaskan bahwa kebutuhan dolar AS meningkat signifikan selama periode ibadah haji. “Biasanya pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar meningkat,” katanya.

Kedua, pembayaran dividen oleh perusahaan-perusahaan pada kuartal II turut mendorong kenaikan permintaan dolar AS dari pelaku usaha dan investor. Kombinasi kedua faktor ini, ditambah dengan penguatan dolar di pasar global, menciptakan tekanan berlapis yang membuat rupiah sulit beranjak dari level rendah.

Sementara itu, pemerintah bersama Bank Indonesia terus memantau perkembangan nilai tukar dan membandingkannya dengan kondisi negara lain yang mengalami tekanan serupa. Untuk meredam gejolak, sejumlah langkah telah disiapkan. Salah satunya adalah memperkuat kerja sama keuangan internasional melalui skema pertukaran mata uang atau currency swap dengan sejumlah negara, seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Di sisi lain, pemerintah juga tengah mengkaji strategi pembiayaan alternatif melalui penerbitan surat utang dalam mata uang lain, seperti yuan dan yen. Upaya ini bertujuan untuk mengelola tekanan terhadap dolar AS dengan mendiversifikasi sumber pembiayaan dan mengurangi beban permintaan valas secara berlebihan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar