Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa pasukan negaranya telah menghancurkan tujuh kapal militer kecil milik Iran di Selat Hormuz. Meski aksi tersebut terjadi di tengah situasi yang sensitif, Trump menegaskan bahwa serangan itu tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang tengah berlangsung.
Pernyataan itu disampaikan Trump di Ruang Oval, Washington DC, saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai definisi pelanggaran gencatan senjata. Namun, ia enggan memberikan penjelasan rinci. "Anda akan mengetahuinya," ujar Trump singkat. Ia kemudian menambahkan, "Orang Iran tahu. Mereka tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Mereka menghormati kita."
Serangan tersebut merupakan bagian dari inisiatif yang disebut Washington sebagai "project freedom" di Selat Hormuz. Program ini bertujuan untuk mengawal dan memandu kapal-kapal dari Teluk agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Menurut laporan yang dihimpun dari berbagai sumber, proyek ini dimulai dengan serangan udara menggunakan helikopter terhadap tujuh kapal cepat Iran pada awal pekan ini.
"Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, 'kapal cepat'. Itu saja yang mereka miliki," kata Trump, merujuk pada armada yang dihancurkan dalam operasi tersebut.
Sementara itu, pihak Iran membantah versi kejadian yang disampaikan oleh Amerika Serikat. Mengutip sumber militer, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa yang menjadi sasaran serangan sebenarnya adalah dua kapal kargo kecil. Akibat insiden itu, lima warga sipil dilaporkan tewas.
Proyek pengawalan ini sebenarnya telah diisyaratkan oleh Trump beberapa waktu sebelumnya. Ia menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal-kapal yang terdampar di perairan Teluk agar bisa keluar dengan melintasi Selat Hormuz. Rencana itu mulai dijalankan pada Senin, 4 Mei. Kapal-kapal tersebut sebelumnya terjebak sejak Iran memblokir jalur perairan strategis itu pada awal konflik yang pecah pada Februari lalu.
Artikel Terkait
KSP Dudung Kecam Pernyataan Habib Rizieq: Ulama Harusnya Menyejukkan, Bukan Memprovokasi
Penyakit Kulit Mewabah di Kamp Pengungsian Gaza, PBB Peringatkan Krisis Kesehatan Baru
Penyakit Kulit Ancam Warga Gaza, PBB Peringatkan Krisis Kesehatan Baru di Kamp Pengungsian
Polisi Periksa 36 Saksi untuk Ungkap Tabrakan Maut Commuter Line dan KA Argo Bromo di Bekasi