Bapanas Gencarkan Intervensi Pangan Jaga Stabilitas Harga, Tekan Inflasi Pasca-Lebaran

- Selasa, 05 Mei 2026 | 03:30 WIB
Bapanas Gencarkan Intervensi Pangan Jaga Stabilitas Harga, Tekan Inflasi Pasca-Lebaran

Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memperkuat langkah intervensi guna menjaga stabilitas harga pangan dari tingkat produsen hingga konsumen, sebuah upaya yang dinilai krusial untuk melindungi petani, menjamin ketersediaan pasokan, serta memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan inflasi.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasinya terhadap kondisi pangan nasional yang dinilai relatif stabil pasca perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Ia merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tren positif tersebut.

"Alhamdulillah, saya sampaikan terima kasih. Harga relatif stabil dan semua pangan relatif stabil. Ini ditunjukkan oleh data BPS. Saya harus dukung ini," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (4/5).

Pemerintah berkomitmen untuk memaksimalkan upaya stabilisasi harga, termasuk dalam menghadapi Hari Raya Idul Adha mendatang. Lebih jauh, Amran menekankan visi jangka panjang untuk mewujudkan swasembada pangan di setiap pulau di Indonesia.

"Mimpi kami adalah seluruh pulau Indonesia, itu swasembada pangan, protein, energi, dan etanol. Ini mimpi kita ke depan. Pertahanan negara yang baik, kalau kita berdaulat pangan di setiap pulau. Kenapa? Inflasi otomatis tidak terjadi," jelasnya.

Sejalan dengan visi tersebut, pemerintah mengantisipasi deflasi yang terjadi pada April 2026 dengan memastikan harga di tingkat produsen tidak jatuh terlalu dalam. Di sisi lain, harga di tingkat konsumen tetap dijaga pada level yang wajar.

Salah satu indikasi tekanan harga terlihat pada komoditas peternakan. Bapanas mencatat, rata-rata harga ayam pedaging hidup per 3 Mei berada di Rp23.401 per kilogram (kg), di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat produsen yang ditetapkan sebesar Rp25.000 per kg. Angka ini juga menurun dibandingkan awal April yang tercatat Rp23.696 per kg.

Kondisi serupa terjadi pada telur ayam ras. Harga di tingkat produsen per 3 Mei rata-rata Rp24.890 per kg, lebih rendah dari HAP sebesar Rp26.500 per kg dan turun dibandingkan awal April yang masih di angka Rp25.642 per kg.

Untuk menekan biaya produksi peternak, Bapanas bersama Perum Bulog telah memulai penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Langkah ini diambil untuk mengatasi fluktuasi harga jagung yang telah melebihi 16,81 persen dari Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat peternak atau konsumen yang ditetapkan di Rp5.800 per kg.

Program SPHP jagung pakan tahap awal ditargetkan menjangkau lebih dari 5.000 peternak skala mikro, kecil, dan menengah, dengan total populasi 53 juta ekor unggas di 26 provinsi. Estimasi volume penyaluran mencapai 213,1 ribu ton.

Sementara itu, untuk mengatasi deflasi cabai, Bapanas mendorong program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Stok cabai dari daerah surplus, seperti Sulawesi Selatan atau Sulawesi Utara, akan disalurkan ke daerah yang mengalami fluktuasi harga tinggi, terutama di kawasan Indonesia Timur.

Tren penurunan inflasi pada April 2026, khususnya pada komponen harga bergejolak atau inflasi pangan, menunjukkan mulai meredanya tekanan harga pasca-HBKN. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah komoditas strategis menjadi penyumbang utama deflasi, di antaranya daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah.

"Tingkat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau umumnya lebih rendah pada periode yang bertepatan dengan momen pasca-Lebaran. Seiring juga adanya normalisasi permintaan pasca HBKN," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, di Jakarta, Senin (4/5).

Data BPS menunjukkan, daging ayam ras yang pada Maret mengalami inflasi 3,30 persen secara bulanan, berbalik menjadi deflasi 6,20 persen pada April. Telur ayam ras juga turun dari inflasi 2,34 persen menjadi deflasi 4,29 persen. Cabai rawit dan cabai merah masing-masing mencatat deflasi 14,98 persen dan 2,59 persen.

Akibatnya, tingkat inflasi pangan secara tahunan menurun dari 4,24 persen di Maret menjadi 3,37 persen di April. Angka ini masih berada dalam kisaran target pemerintah, yaitu 3 hingga 5 persen. Adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.

Secara bulanan, inflasi pangan tercatat deflasi 0,88 persen. Deflasi pada bulan April merupakan tren yang berulang sejak 2024. Pada April 2024, deflasi tercatat sebesar 0,31 persen, dan pada April 2025 sebesar 0,04 persen. Deflasi pangan pada April 2026 menjadi yang paling dalam dalam periode tersebut.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar