DAVOS Di tengah salju yang menyelimuti kota kecil Swiss itu, Presiden Prabowo Subianto justru membawa angin optimisme yang hangat. Dalam pidatonya di World Economic Forum 2026, Kamis (22/1), ia dengan tegas menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal 'mengejutkan dunia'. Bukan sekadar janji politik, klaim itu ia sampaikan di hadapan para pemimpin global yang tengah resah menghadapi ketidakpastian.
Lantas, apa dasarnya? Prabowo berargumen, ketangguhan fundamental negeri ini yang jadi pilar utama. Dunia memang lagi kacau. Ada pengetatan keuangan, tensi perdagangan yang memanas, ditambah lagi konflik geopolitik di sana-sini. Tapi Indonesia, menurutnya, mampu bertahan dengan cukup baik.
“Saya yakin pertumbuhan kami, pertumbuhan ekonomi kami, akan secara signifikan mengejutkan banyak pihak di dunia,” ucap Prabowo.
Ia lalu memaparkan sejumlah data yang ia sebut sebagai bukti nyata. Inflasi tahunan kita, contohnya, masih bisa dikendalikan di angka sekitar 2 persen. Lalu soal APBN, defisitnya berhasil ditahan di bawah 3 persen dari PDB. Yang tak kalah penting, pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran 5 persen selama sepuluh tahun terakhir. Dan tahun ini, Prabowo merasa bakal lebih baik lagi.
“Dan saya yakin bahwa tahun ini, pertumbuhan (ekonomi) kami akan lebih tinggi,” katanya.
Nah, optimisme ini ternyata diamini oleh lembaga-lembaga internasional. Prabowo menyebut laporan IMF November lalu yang menjuluki Indonesia sebagai 'bright spot' atau titik terang. Pujian itu, tegasnya, bukan datang begitu saja.
“Lembaga-lembaga internasional tidak memuji kami karena optimisme yang tidak berdasar. Mereka melakukannya karena bukti. Mereka mengakui bahwa ekonomi Indonesia tangguh,” kata Prabowo.
Menurut dia, stabilitas yang kita rasakan sekarang bukanlah kebetulan. Ini buah dari pilihan jalan yang konsisten. Di tengah dunia yang terkadang memilih jalan konfrontasi, Indonesia lebih memilih untuk bersatu dan berkolaborasi.
“Kami, Indonesia, telah dan akan selalu memilih persatuan daripada perpecahan, memilih persahabatan dan kolaborasi daripada konfrontasi, dan selalu memilih persahabatan daripada permusuhan. Kredibilitas kami, yang diperoleh dengan susah payah selama bertahun-tahun, telah dijaga,” pungkasnya di akhir sesi.
Pidato yang penuh keyakinan itu pun mengundang decak kagum dari sejumlah peserta forum. Mereka melihat, di tengah awan kelabu ekonomi global, Indonesia menawarkan narasi yang berbeda. Sebuah narasi tentang ketahanan dan harapan.
Artikel Terkait
Basuki Pastikan Pelemahan Rupiah Belum Berdampak pada Biaya Pembangunan IKN
Bank Mandiri Cetak Sejarah, Jadi Bank RI Pertama yang Jadi Anggota Langsung Sistem Pembayaran RMB China
Jay Idzes Bela Beckham Putra Usai Dihujat Suporter: Dia Tetap Bagian dari Timnas Indonesia
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk Targetkan Tol Kataraja Beroperasi Penuh Akhir 2026, Hubungkan Bandara Soetta-PIK 2