Saat Pretti berbalik dan mencoba menolong wanita yang terjatuh, semprotan merica itu tak berhenti. Dia berusaha mengangkat wanita itu, tapi beberapa agen malah menariknya paksa. Pretti kemudian dipaksa berlutut.
Lalu, salah satu agen merogoh sesuatu dari pinggang Pretti sebelum buru-buru menjauh. Hanya beberapa detik berselang, suasana berubah mencekam. Seorang petugas lain, dengan pistol sudah terhunus, menembakkan empat peluru beruntun ke arah punggung Pretti.
Tembakan-tembakan lain menyusul, seiring dengan agen lain yang juga melepaskan tembakan. Setelah itu, mereka semua mundur, meninggalkan jasad Pretti terbaring.
Beberapa agen kemudian mendekat, seolah menawarkan bantuan medis. Sementara yang lain bertugas mengawasi, mencegah warga mendekati lokasi.
Insiden ini langsung menyulut amarah. Ratusan massa turun ke jalan, berhadapan langsung dengan agen-agen bersenjata dan bertopeng yang membalas dengan gas air mata serta granat kejut. Solidaritasnya meluas protes serupa meletus di New York, Washington DC, dan San Francisco.
Di sisi lain, ketegangan antara pejabat negara bagian dan federal pun memuncak. Perselisihan ini sebenarnya sudah lama mengendap, terutama sejak penembakan warga AS lain, Renee Good, awal Januari lalu. Puncaknya, pemerintah federal menolak keterlibatan pejabat lokal dalam penyelidikan kasus-kasus ini, memperuncing jurang ketidakpercayaan.
Artikel Terkait
Netanyahu Sindir Rumor Kematian dan Enam Jari, Tegaskan Serangan ke Iran
Netanyahu Tampil di Video, Bantah Rumor Kematian dan Jari Hasil AI
Ketua Umum Projo Prihatin atas Penyiraman Aktivis KontraS, Serukan Penegakan Hukum
BMKG: Panas Terik di Jakarta Dipicu Sinar Matahari Kuat dan Awal Musim Kemarau