Stellantis Terbitkan Obligasi Hybrid Rp97,9 Triliun untuk Kuatkan Likuiditas

- Rabu, 11 Maret 2026 | 19:12 WIB
Stellantis Terbitkan Obligasi Hybrid Rp97,9 Triliun untuk Kuatkan Likuiditas

Stellantis baru saja mengumumkan harga untuk obligasi hybrid bernilai fantastis, setara dengan 5 miliar euro. Atau kalau dirupiahkan, angkanya mencapai Rp97,9 triliun. Langkah ini diambil perusahaan otomotif raksasa itu untuk menguatkan neraca keuangannya, beberapa pekan setelah mereka mengakui beban biaya miliaran euro akibat perubahan strategi besar-besaran di bisnis kendaraan listrik.

Seperti dilaporkan Reuters, Rabu (11/3/2026), keputusan penerbitan obligasi ini tak lepas dari goncangan yang baru-baru ini terjadi. Bulan lalu, Stellantis membuat heboh dengan mengumumkan penurunan nilai aset (impairment) hingga 22,2 miliar euro. Penyebabnya? Perusahaan terpaksa mengurangi fokus dan ekspansi agresifnya di segmen kendaraan listrik (EV).

CEO Antonio Filosa mengakui, sebelumnya mereka terlalu optimis. Perkiraan tentang seberapa cepat konsumen global akan beralih ke kendaraan ramah lingkungan ternyata meleset jauh dari realita.

"Penerbitan ini akan semakin memperkuat struktur permodalan dan posisi likuiditas Stellantis,"

Demikian pernyataan resmi dari perusahaan yang menaungi merek-merek seperti Jeep dan Peugeot itu.

Nah, obligasi senilai 5 miliar euro itu sendiri diterbitkan dalam tiga bagian atau tranche. Rinciannya begini: ada tranche 2,2 miliar euro dengan kupon 6,25% dan masa non-call 5,25 tahun. Lalu, 1,8 miliar euro dengan kupon lebih tinggi, 6,875%, dan periode non-call 8 tahun. Tak cuma euro, mereka juga menerbitkan obligasi senilai 865 juta pound sterling (sekitar USD 1,16 miliar) dengan kupon awal 8,25% dan non-call 6,5 tahun. Transaksi ini rencananya bakal diselesaikan pada 16 Maret mendatang.

Di sisi lain, pergeseran strategi Stellantis terasa jelas. Dulu, di era mantan CEO Carlos Tavares, fokusnya sangat kuat ke kendaraan listrik penuh. Sekarang, perusahaan yang juga punya merek Ram, Chrysler, Fiat, dan Citroen itu mengalihkan haluan. Mereka memberi porsi lebih besar untuk model hybrid dan mesin pembakaran internal. Alasannya sederhana tapi masuk akal: permintaan pasar terhadap EV murni ternyata tumbuh lebih lambat, khususnya di Amerika Serikat.

Menurut sejumlah analis, langkah penerbitan obligasi ini adalah cara cerdas untuk menjaga likuiditas sekaligus membiayai transisi strategi yang tidak murah itu. Semua mata kini tertuju pada presentasi rencana bisnis jangka panjang Stellantis yang dijadwalkan pada 21 Mei nanti. Apa yang akan mereka ungkap? Kita tunggu saja.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar