Gubernur Banten Terima Masyarakat Baduy dalam Seba, Komitmen Jaga Lingkungan dan Fasilitasi Ritual Pelestarian Alam

- Minggu, 26 April 2026 | 01:15 WIB
Gubernur Banten Terima Masyarakat Baduy dalam Seba, Komitmen Jaga Lingkungan dan Fasilitasi Ritual Pelestarian Alam

Jakarta Ada suasana yang agak berbeda di Gedung Negara Provinsi Banten, Sabtu (25/4/2026) lalu. Bukan rapat atau seremoni biasa, melainkan tradisi tahunan yang sudah mengakar: Seba Baduy. Gubernur Banten, Andra Soni, menerima langsung kedatangan masyarakat Baduy. Mereka datang bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa hasil bumi dari Kanekes, Kabupaten Lebak. Sebuah simbol penghormatan kepada “Bapak Gede” panggilan akrab untuk Gubernur. Siang harinya, Andra menjalani prosesi Muka Panto. Intinya, membuka pintu Gedung Negara sebagai tanda penyambutan. Lalu, begitu malam tiba, giliran tradisi mendengarkan amanat dari masyarakat Baduy. Suasana pasti terasa sakral, penuh makna. Nah, dari amanat yang disampaikan lewat Jaro Pamarentah dan Jaro warga, ada satu pesan yang paling menonjol: soal lingkungan. Gubernur Andra Soni mengaku sangat mengapresiasi hal itu. “Tadi disampaikan tentang permasalahan lingkungan di wilayah Kanekes. Amanah yang mereka pegang turun-temurun adalah ‘gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak’,” ujar Andra. Artinya, gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak. Sebuah filosofi yang sederhana tapi dalam. Menurut Andra, pemerintah provinsi tidak akan berhenti di seremoni semata. Komunikasi dengan masyarakat adat Baduy akan terus dibangun. Bukan cuma pas Seba, tapi melalui koordinasi yang berkelanjutan. “Insya Allah komunikasi terus kita bangun. Melalui Jaro Pamarentah, mereka selalu menyampaikan hal-hal yang perlu dilaporkan. Kami berterima kasih kepada masyarakat adat Kanekes yang setia kepada pemerintah dan terus memberikan masukan, salah satunya dalam menjaga alam,” katanya. Di sisi lain, ada satu rencana yang cukup menarik perhatian. Masyarakat Baduy ingin menggelar ritual pelestarian alam di Sanghyang Sirah dan Gunung Honje, wilayah Ujung Kulon, Pandeglang. Dan Gubernur Andra Soni bilang, akan membantu. “Melalui Dinas Lingkungan Hidup, kita akan berkoordinasi dengan Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Termasuk harapan mereka untuk melaksanakan ritual di Sanghyang Sirah dan Gunung Honje melalui kegiatan Ngaraksa Gunung Ngarawat Alam. Mudah-mudahan bisa kita fasilitasi,” tambahnya. Sementara itu, Kepala Desa Kanekes yang juga Jaro Pamarentah, Jaro Oom, menjelaskan latar belakang tradisi ini. Seba Baduy, katanya, adalah bagian dari rangkaian adat pascapanen dan prosesi Ngalaksa. Ini bukan sekadar kunjungan biasa. “Kami menegaskan komitmen untuk terus ngeraksa dan menjalankan aturan adat. Kami menjalankan ritual sakral untuk menyelamatkan gunung, sungai, dan hutan. Kami ngaraksa gunung ngarawat alam,” tegasnya. Jaro Oom juga menambahkan, ritual perawatan alam itu rencananya bakal dilakukan secara rutin di beberapa titik di luar wilayah ulayat Baduy. Termasuk Sanghyang Sirah dan Gunung Honje. Semua demi menjaga keseimbangan lingkungan. Sebuah komitmen yang mungkin jarang kita dengar dari kelompok lain.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar