Praktik pengoplosan gas LPG bersubsidi ke tabung non-subsidi kembali terbongkar. Ditreskrimsus Polda Metro Jaya yang mengungkapnya menyebut aksi ini bukan cuma merugikan negara, tapi juga menyimpan ancaman serius. Bayangkan saja, tabung gas yang diutak-atik sembarangan itu rawan meledak kapan saja.
Kombes Edy Suranta Sitepu, selaku Ditreskrimsus, dengan tegas memaparkan bahayanya.
“Pemindahan gas ini tidak melalui proses yang aman. Risikonya jelas: kebocoran, kebakaran, sampai ledakan,” ujarnya di Polda Metro Jaya, Rabu (24/12).
“Ini sangat berbahaya, bisa mengancam keselamatan pelaku sendiri maupun masyarakat di sekitarnya,” sambung Edy.
Menurut penjelasannya, bahayanya berlapis. Selain risiko ledakan, ada ancaman langsung bagi pelaku saat melakukan penyuntikan. Gas yang terhirup bisa bikin sesak napas, bahkan berujung fatal.
Operasi polisi ini menggulung jaringan di dua lokasi, Jakarta Timur dan Kota Depok. Tiga orang diamankan dengan inisial PBS, SH, dan JH. Barang buktinya pun beragam, dari tabung gas melon 3 kg, tabung 12 kg, sampai yang berukuran besar 50 kg.
Dari aksinya, pelaku disebut meraup keuntungan lumayan. Untuk satu tabung 12 kg oplosan, mereka dapat sekitar Rp 200 ribu. Sementara untuk ukuran 50 kg, harganya bisa mencapai Rp 500 ribu.
“Kami menjeratnya dengan Pasal 40 Angka 9 UU Cipta Kerja, dikaitkan dengan Pasal 55 UU Migas,” jelas Edy soal pasal yang disiapkan.
Di sisi lain, dukungan penuh datang dari Pertamina. Muhammad Ivan, Sales Area Manager Jabode Retail Pertamina, menyambut baik pengungkapan kasus ini.
“Kami tidak akan mentolerir pelanggaran, apalagi yang menyangkut subsidi untuk masyarakat,” tegas Ivan.
Ia juga menggarisbawahi soal faktor keamanan. Praktik ilegal ini, menurutnya, sangat jauh dari standar keselamatan.
“Pengisian LPG yang benar itu menggunakan alat khusus di SPBE kami, dengan aturan ketat. Kalau dipindah secara manual, ya risikonya besar. Bisa berakhir dengan kecelakaan atau kebakaran yang merugikan banyak orang,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Bentrokan Sawit di Rokan Hulu Tewaskan Satu Orang, Lima Ditahan Dua Buron
Studi Buktikan AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Dokter di Rwanda dan Pakistan
Harga Cabai Rawit di Maros Tembus Rp55 Ribu per Kg Jelang Ramadan
SIM Keliling Polrestabes Bandung Buka di Dua Lokasi Rabu Ini