Pramuka DIY Bekali Generasi Z dan Alpha Hadapi Bencana

- Selasa, 16 Desember 2025 | 13:06 WIB
Pramuka DIY Bekali Generasi Z dan Alpha Hadapi Bencana

Yogyakarta punya cara baru dalam mendidik generasi mudanya lewat Pramuka. Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka DIY kini secara resmi menempatkan isu kebencanaan sebagai fokus utama. Ini bukan sekadar teori, tapi upaya nyata membekali generasi Z dan Alpha dengan kemampuan bertahan di tengah ancaman bencana yang kian sering terjadi.

Pelantikan pengurus baru Kwarda DIY periode 2025–2030, Senin (15/12) lalu, di Kompleks Kantor Gubernur, jadi momen penegasan arah itu. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, yang dilantik sebagai Ketua Kwarda, langsung menyoroti urgensi persiapan ini.

“Jadi secara statistik mereka itu akan mengalami bencana alam yang jauh lebih banyak,”

ungkapnya usai acara pelantikan. Menurutnya, fakta itu tak bisa dihindari. Maka, yang perlu disiapkan adalah keterampilan praktis, jauh dari dunia digital, untuk menghadapi situasi darurat.

GKR Hayu membayangkan skenario yang sangat konkret. Bayangkan saat banjir melanda, listrik padam, dan gadget tak berguna. Apa yang bisa dilakukan seorang anak?

“Paling nggak saya membayangkan, saya bisa membekali anak saya itu, bukan hanya digital skill, tapi juga ketika terjadi banjir, ketika terjadi bencana alam yang lain, nggak ada listrik, dia bisa membantu diri sendiri,”

tuturnya. Di sinilah peran Pramuka dinilai krusial: sebagai ruang belajar langsung untuk mengasah disiplin, ketrampilan lapangan, dan nalar mengambil keputusan saat krisis.

Namun begitu, tantangannya nyata. Ketergantungan generasi muda pada teknologi begitu besar. Saat jaringan down atau perangkat mati, bisa-bisa mereka kelabakan. Oleh karena itu, program Pramuka ke depan harus bisa menjawab kegelisahan ini dengan pendekatan yang aplikatif.

Untuk mewujudkannya, Kwarda DIY tak main-main. Mereka mengisi struktur kepengurusan dengan para praktisi lapangan. Salah satunya adalah KPH Notonegoro, yang berpengalaman dalam manajemen krisis dan penanganan bencana hingga level internasional.

“Di kepengurusan Kwarda banyak yang praktisi. Kak Noto (KPH Notonegoro) experience beliau untuk crisis management dan kebencanaan itu levelnya sudah internasional. Jadi selain dengan senior yang sudah known as the best di bidangnya, juga saya tampilkan dengan muda,”

jelas GKR Hayu. Kolaborasi antara senior kompeten dan energi kaum muda ini diharapkan bisa menghidupkan kembali semangat kepramukaan yang relevan dengan kondisi kekinian.

Pelantikan kepengurusan baru ini sendiri dipimpin langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Susunan intinya mencakup GKR Hayu sebagai Ketua, dengan beberapa Wakil Ketua yang membidangi area spesifik seperti Organisasi, Pembinaan Anggota, hingga Kebudayaan.

Perubahan arah kebijakan ini sejatinya adalah hasil evaluasi. Mereka ingin program Pramuka tak lagi sekadar seremonial, tapi benar-benar berangkat dari kebutuhan riil yang dihadapi anak-anak sekarang. Di sisi lain, ini juga upaya menjaga relevansi gerakan Pramuka di tengah zaman yang serba tak pasti. Tujuannya satu: menciptakan generasi yang tak hanya cakap digital, tapi juga tangguh menghadapi dunia nyata.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler