AS Resmi Tinggalkan WHO, Utang Rp2 Triliun dan Akses Data Kesehatan Masih Menggantung

- Jumat, 23 Januari 2026 | 15:00 WIB
AS Resmi Tinggalkan WHO, Utang Rp2 Triliun dan Akses Data Kesehatan Masih Menggantung

Di sisi lain, pejabat pemerintahan Trump sendiri mengakui ada beberapa isu yang belum beres. Salah satunya yang cukup krusial: akses AS terhadap data kesehatan global. Selama ini, data itu berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi ancaman pandemi baru. Kalau aksesnya terputus, kekhawatiran bakal makin besar.

Sepanjang tahun lalu, desakan dari pakar kesehatan global agar keputusan ini ditinjau ulang terus mengalir. Bahkan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, tak henti menekankan betapa vitalnya kerja sama internasional di tengah ancaman kesehatan yang makin kompleks.

Kekhawatiran yang Meningkat

Memang, sejak wacana ini mengemuka, banyak ahli yang sudah angkat suara. Mereka memperingatkan bahwa langkah AS ini bisa melemahkan posisi WHO dan juga keamanan kesehatan global secara keseluruhan.

Faktanya, AS selama ini adalah penyumbang dana terbesar bagi badan kesehatan PBB itu. Tugas WHO sendiri sangat luas: mengoordinasi kesiapsiagaan menghadapi wabah seperti mpox atau Ebola, memberi bantuan teknis ke negara miskin, mendistribusikan vaksin yang langka, sampai menetapkan pedoman penanganan ratusan penyakit, dari kanker sampai masalah kesehatan mental.

Tanpa dukungan penuh Washington, banyak yang pesimis.

"Saya berharap Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali keputusannya dan bergabung lagi dengan WHO," kata Tedros dalam sebuah konferensi pers awal bulan ini. Suaranya terdengar berat.

"Penarikan diri dari WHO merupakan kerugian bagi Amerika Serikat dan juga kerugian bagi seluruh dunia."

Kini, bola ada di pengadilan sejarah. Apakah langkah ini akan dilihat sebagai kemandirian atau justru isolasi yang berisiko? Hanya waktu yang bisa menjawab.


Halaman:

Komentar