Sudah berbulan-bulan Heng Guan terkurung di balik tembok fasilitas penahanan Imigrasi AS. Pria asal Henan, Cina, ini punya catatan khusus: ia mendokumentasikan jaringan fasilitas penahanan di Xinjiang. Kini, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) berupaya keras untuk mendeportasinya.
Sidang keduanya dijadwalkan Senin (12/01). Situasinya berliku. Desember lalu, jaksa DHS sempat mengajukan permintaan aneh ke pengadilan: mendeportasi Guan ke Uganda lewat kesepakatan migran negara ketiga. Permintaan itu akhirnya ditarik, katanya setelah muncul kekhawatiran di Washington. Tapi, menurut pengacaranya, Chuangchuang Chen, ICE tetap ngotot mendorong deportasi Guan kembali ke Cina.
“Saya akan lompat dari pesawat jika dideportasi,” ujar Guan dalam wawancara eksklusif dari penahanan ICE kepada DW. Suaranya tegas. “Saya lebih baik mati daripada dipenjara di Cina.”
Guan, 38 tahun, tiba di AS pada 2021 dengan cara yang tak biasa: naik perahu dari Bahama. Langkah nekat itu diambil setelah ia membuat vlog 20 menit soal Xinjiang, di mana ia menuduh pemerintah Cina melakukan penahanan massal terhadap muslim Uighur. Ia yakin betul, pulang ke Cina berarti masuk penjara.
“Saya tidak kecewa dengan AS,” katanya. Di tengah ketidakpastian, ia masih percaya bahwa Amerika adalah satu-satunya tameng dari balas dendam negaranya.
Pengacaranya, Chen, pesimis. Ia tak berharap hakim akan mengeluarkan putusan yang menguntungkan, “kecuali pihak berwenang mencabut kasus ini.”
Hidup dalam Bayang-bayang Deportasi
Sebelum digerebek ICE di apartemennya pada Agustus 2025, Guan hidup sebagai sopir Uber dan truk di New York. Hidupnya berjalan, ia merasa aman-aman saja.
“Saya pikir saya legal sebelum ditangkap. Setidaknya, status saya legal selama menunggu permohonan suaka diproses,” kenangnya.
Memang, ia diizinkan bekerja selama kasus suakanya berjalan. Tapi proses suaka di AS itu terkenal lambat, bisa makan waktu bertahun-tahun hanya untuk menunggu jadwal wawancara. Ditambah lagi dengan prosedur hukum yang berbelit.
“Saya tidak menyangka akan ditangkap,” aku Guan. “Ini perubahan di bawah pemerintahan saat ini.”
Saat razia, ia sempat menunjukkan dokumen izin kerja dan SIMnya pada agen ICE. Percuma. Ia tetap diborgol dan digiring, berpindah-pindah dari satu fasilitas penahanan ke fasilitas lain.
Sejak itu, hidupnya berubah. ICE memberi surat perintah administratif yang menyatakan dia tidak memenuhi syarat masuk AS. Seorang hakim imigrasi juga menolak permohonan jaminan kebebasannya pada Desember lalu. Ia terperangkap.
Kasusnya mulai mencuat dan bikin cemas sejumlah kalangan di Washington. Kekhawatiran utamanya: risiko persekusi yang sangat tinggi menunggu jika Guan dipulangkan ke Cina.
Dukungan publik pun mengalir, bahkan dari anggota Kongres, terutama setelah LSM Human Rights in China mempublikasikan kisahnya. Menurut Chen, dukungan politik itu membantu, tapi ujung-ujungnya nasib Guan ada di tangan hakim imigrasi.
DW sudah mencoba minta konfirmasi ke ICE, tapi tak ada jawaban.
Jalan Panjang Menjadi Saksi
Lahir dan besar di Cina Tengah, Guan pernah merasakan kerja kasar di pabrik dan ladang minyak. Hobi fotografi muncul saat kuliah, yang kemudian berkembang jadi vlog perjalanan sejak 2018.
Semuanya berubah setelah ia melakukan perjalanan motor ke Xinjiang pada 2019.
Artikel Terkait
Limbah FABA Disulap Jadi Peluang, Lapas Cetak Warga Binaan Mandiri
Kades dan Tiga Terdakwa Divonis 3,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Pager Laut
Indonesia Puncaki Peringkat Kesejahteraan Global: Modal Sosial atau Alarm bagi Kebijakan?
Chat Grup Nadiem Sebelum Jadi Menteri Jadi Sorotan di Sidang Korupsi Rp 2,1 Triliun