PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) baru saja menggelontorkan dana segar untuk anak perusahaannya. Nilainya tak tanggung-tanggung, mencapai Rp20 miliar. Penerimanya adalah PT Duta Mitra Solusindo (DMS), yang bergerak di bidang penyediaan tenaga kerja, khususnya sopir.
Menurut Jerry Fandy Tunjungan, Direktur & Corporate Secretary ASSA, langkah ini diambil untuk memenuhi kebutuhan modal DMS dalam menjalankan operasionalnya.
"DMS dalam menjalankan usahanya membutuhkan tambahan modal, yang mana diharapkan dapat memberikan kontribusi positif kepada perseroan," ujar Jerry melalui keterbukaan informasi, Senin (12/1/2026).
Ini bukan tanpa alasan. Bisnis penyediaan sopir DMS ternyata cukup besar. Saat ini, lebih dari 5.000 driver sudah bergabung di dalamnya. Jelas, ini merupakan dukungan vital bagi bisnis inti ASSA di sewa kendaraan melalui ASSA Rent.
Nah, dengan suntikan dana segar itu, struktur permodalan DMS pun berubah drastis. Modal yang ditempatkan dan disetor melonjak dari sebelumnya cuma Rp510 juta, kini menjadi Rp20,51 miliar. Efeknya langsung terasa pada struktur kepemilikan saham.
Kepemilikan ASSA di DMS kini membengkak jadi 99,99%. Di sisi lain, porsi saham milik Prodjo Sunarjanto Sekar Pantjawati terdilusi tipis, tinggal 0,01%. Hal ini wajar, karena Prodjo tidak ikut serta dalam penyertaan modal kali ini.
Meski begitu, posisinya di perusahaan tetap ada. Prodjo, yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur ASSA, ternyata duduk sebagai Komisaris di DMS. Sementara Jerry merangkap sebagai Direktur Utama. Ada juga Suherman, Head of Accounting ASSA, yang ditunjuk menjadi Direktur di anak perusahaan tersebut.
Jadi, dengan langkah ini, ASSA tak hanya memperkuat cengkeramannya, tapi juga memastikan pasokan sopir andal untuk bisnis rentalnya tetap lancar. Sebuah langkah strategis yang terlihat sederhana, namun punya dampak jangka panjang.
Artikel Terkait
Enam Saham RI Dikeluarkan dari Indeks MSCI, Pengamat Sebut Ruang Fiskal Makin Sempit Akibat Bunga Utang Membengkak
Pasar Modal Tertekan Sentimen Negatif, Pemerintah Diminta Respons Kekhawatiran Investor
Rupiah Diprediksi Tembus Rp19.000 per Dolar AS Akhir Juni Akibat Tekanan Geopolitik dan Suku Bunga The Fed
BCA Bagikan Dividen Interim Rp20 per Saham pada Kuartal II 2026