“Saya waktu itu belum tahu detail soal kamp-kamp Uighur,” ceritanya. “Tapi suasana sosialnya terasa aneh. Aturannya ketat sekali, kontradiktif.”
Puncaknya adalah saat ia membaca investigasi BuzzFeed News tahun 2020 yang melacak kamp penahanan menggunakan citra satelit. Guan memutuskan untuk kembali ke Xinjiang.
Dengan kamera, ia merekam video 20 menit yang mendokumentasikan beberapa lokasi berdasarkan informasi media AS. Sebuah tanggung jawab besar ia rasakan.
“Saat saya sadar jurnalis asing sulit masuk Xinjiang, saya merasa punya kewajiban sipil. Untuk mendokumentasikan. Untuk menjadi saksi,” ujarnya.
Tapi, untuk merilis rekaman itu, ia harus keluar dari Cina. Amerika bukan tujuan pertama. Ia terbang dulu ke Ekuador, lalu ke Bahama – negara yang membebaskan visa bagi pemegang paspor Cina.
“Tak semua negara menjamin kebebasan berekspresi. Beberapa bahkan punya catatan mendeportasi pembangkang kembali ke Cina. Saya pertimbangkan semua opsi,” jelasnya.
“Akhirnya, terpaksa, tanpa pilihan lain, saya cari cara yang tidak biasa untuk masuk AS.” Menurut LSM Human Rights in China, ia membeli perahu karet kecil dan mesin tempel di Bahama sebelum berlayar menuju Florida.
Begitu tiba di AS pada 2021, video Xinjiang itu ia unggah. Dalam waktu singkat, perhatian para peneliti pelanggaran HAM Cina tertuju padanya.
Alison Killing, salah satu penulis investigasi BuzzFeed News, menyebut rekaman Guan membantu mengonfirmasi fungsi fasilitas-fasilitas itu: apakah penjara atau pusat penahanan.
Salah Waktu?
Video itu sekaligus memutus talinya dengan kampung halaman.
Ibunya, Yun Luo, yang kini tinggal di Taiwan, terbang ke AS untuk mendampingi sidang anaknya. Ia bercerita, kerabat mereka di Cina telah diinterogasi dan memutus semua kontak dengan Guan.
“Menyedihkan. Dulu kami bisa ngobrol di telepon tiap minggu,” kata Luo. “Sekarang, pesan saya pun tidak dibalas.”
Informasi pribadi Guan juga bocor online setelah video diunggah ke YouTube. Luo yakin, pihak tertentu “tidak akan berhenti mengejarnya setelah video itu dirilis.”
“Dia datang ke AS pada waktu yang salah,” lanjut Luo dengan nada getir. “Ini mungkin tidak akan terjadi puluhan tahun yang lalu.”
Meski terombang-ambing, Guan masih bersyukur. “Kebebasan seperti ini tidak pernah saya miliki di Cina,” ujarnya. Hanya saja, ia belum sempat menikmatinya sepenuhnya.
“Kita kebetulan sedang menghadapi kebijakan anti-imigrasi yang radikal dari presiden,” tambahnya.
Tapi sekali lagi, ia menegaskan, “Saya tidak kecewa.” Baginya, ini dinamika wajar dalam sistem politik. “Hanya saja, saya mengalaminya di waktu yang kurang beruntung.”
Artikel Terkait
Limbah FABA Disulap Jadi Peluang, Lapas Cetak Warga Binaan Mandiri
Kades dan Tiga Terdakwa Divonis 3,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Pager Laut
Indonesia Puncaki Peringkat Kesejahteraan Global: Modal Sosial atau Alarm bagi Kebijakan?
Chat Grup Nadiem Sebelum Jadi Menteri Jadi Sorotan di Sidang Korupsi Rp 2,1 Triliun