Namun begitu, cerita dari lapangan punya narasi yang berbeda. Tiga prajurit TNI itu gugur dalam dua insiden terpisah, hanya dalam rentang 24 jam. Menurut salah satu sumber yang berbicara kepada AFP, ada dugaan kuat salah satu korban terkena tembakan yang diluncurkan Israel.
Dugaan ini bukannya tanpa alasan. Di lokasi kejadian, tepatnya di sekitar pos unit Indonesia dekat desa Adchit Al Qusayr, ditemukan puing yang diduga berasal dari peluru tank Israel. Sementara dua prajurit lainnya diduga tewas akibat ledakan ranjau saat kendaraan mereka melintas di kawasan Bani Hayyan. Selain yang gugur, sejumlah personel juga mengalami luka-luka.
Insiden berdarah ini langsung memicu reaksi keras. Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mendesak diadakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Desakan itu akhirnya dikabulkan.
Pertemuan darurat pun digelar pada hari Selasa, atas permintaan Prancis. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, tak kalah keras menyuarakan kecamannya.
Ia secara khusus menyoroti tindakan Israel yang dinilai sebagai pelanggaran keamanan sekaligus bentuk intimidasi terhadap pasukan UNIFIL termasuk kontingen Prancis yang bertugas di wilayah Naqura. Situasinya jadi makin tegang, dan dunia kini menunggu hasil penyelidikan PBB yang diharapkan bisa menjernihkan segala duga dan bantahan.
Artikel Terkait
Camat Pimpin Gotong Royong Bersihkan Irigasi Palakka di Bone
Mahfud MD Dukung Pembentukan Tim Pencari Fakta untuk Kasus Andrie Yunus
FLPP Sulsel Tembus Rp229,74 Miliar, Wujudkan 1.838 Rumah Subsidi Hingga Februari 2026
TNI Berikan Santunan Lebih dari Rp1,8 Miliar untuk Tiga Prajurit Gugur di Lebanon