Kondisi sektor manufaktur kita agak tersendat di penghujung triwulan pertama tahun 2026. Laporan terbaru dari S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia anjlok, dari posisi 53,8 di bulan sebelumnya ke level 50,1 pada Maret. Angka itu memang masih di atas batas 50 yang menandai ekspansi, tapi ya, nyaris mentok. Hampir stagnan.
“Data survei bulan Maret menunjukkan penurunan output dan penerimaan pesanan baru di sektor manufaktur Indonesia kembali terjadi,” jelas Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, Rabu lalu.
“Penurunan output tercatat paling tajam dalam sembilan bulan,” tambahnya.
Menurut sejumlah saksi, salah satu pemicu utamanya adalah situasi global yang makin tak menentu. Eskalasi konflik di Timur Tengah disebut-sebut memberi dampak signifikan. Output yang terkontraksi ini adalah yang terdalam sejak Juni tahun lalu, sekaligus memutus tren peningkatan produksi yang sudah berjalan empat bulan berturut-turut. Gara-gara itu, dari sisi permintaan, pesanan baru pun melemah untuk pertama kalinya dalam delapan bulan.
Permintaan ekspor ikut-ikutan lesu. Setelah sempat bernapas lega di Februari, kini kembali merosot. Ini sinyal jelas bahwa permintaan global terhadap produk manufaktur kita mulai tertekan.
Di lapangan, efeknya mulai terasa. Beban pekerjaan yang belum selesai atau backlog akhirnya turun untuk pertama kalinya sejak Oktober 2025. Imbasnya, perusahaan-perusahaan mulai menahan diri untuk merekrut lebih banyak tenaga kerja, meski pengetatan ini masih terbilang terbatas. Aktivitas pembelian bahan baku pun ikut merana, mencatatkan penurunan pertama dalam delapan bulan.
Artikel Terkait
Gempa Megathrust 7,6 SR Guncang Bitung, Picu Tsunami Kecil di Beberapa Wilayah
Pemilik SPBE Cimuning Bakal Dipanggil Usai Kebakaran Diduga Akibat Kebocoran
Prabowo Tunjukkan Finger Heart dengan Idola K-Pop di Tengah Perkuat Kemitraan Strategis dengan Korsel
Microsoft Investasikan Rp94 Triliun untuk Cloud dan AI di Singapura