Di tengah kabut yang masih menyelimuti puncak, Abdul Haris Agam lebih dikenal sebagai Agam Rinjani tiba di lokasi. Dia dan timnya siap terjun langsung dalam operasi pencarian korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan terjal Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulsel. Fokus mereka jelas: menangani evakuasi di medan vertikal yang curam.
“Kami ikut koordinasi dengan Basarnas,” ujar Agam, ditemui di Posko SAR gabungan di Desa Tompobulu, Balocci.
“Strateginya, kami akan bantu khususnya untuk vertical rescue.”
Baru sampai, dia sudah tak sabar untuk mulai bekerja. Hari itu juga, timnya langsung bergerak. Medan yang dihadapi bukan main-main. Lereng Bulusaraung, terutama di sekitar pos 9 jalur pendakian, dikenal sangat curam dan berbahaya.
“Kita ambil posisi di bagian vertikal,” jelasnya.
Rencananya, mereka bahkan akan menginap di atas. “Sesuai kesepakatan nanti saja durasi pastinya,” tambah Agam.
Menurutnya, operasi kali ini benar-benar menantang. Bukan cuma karena medannya. Cuaca di kawasan itu sering berubah dengan ekstrem, jadi faktor penghambat serius. Tapi timnya datang dengan persiapan matang.
“Kami bawa peralatan lengkap. Tali dan semua alat vertical rescue,” papar Agam.
“Kami gabung di pos 9, jalur utama yang vertikal. Setelah briefing, kami akan fokus bantu evakuasi dari sana.”
Intinya, semua upaya dikerahkan untuk satu tujuan: menemukan korban. Agam dan kawan-kawan akan menyusuri setiap celah dan tebing di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Perjuangan mereka baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Kasatpol PP DKI Ungkap 35 Anggota Meninggal dalam Setahun, Desak Fasilitas Istirahat di Kelurahan
Biaya Surat Keterangan Sehat untuk Lamaran Kerja di Puskesmas dan Rumah Sakit
Kepala Satpol PP DKI Minta Maaf Usai Mobil Dinas Parkir di Trotoar Viral
Istri Kuwu Cirebon Dilaporkan Berselingkuh dengan Anggota DPRD, Polisi dan BK DPRD Telah Menerima Laporan