Peringatan dari Senayan
Di sisi lain, dari gedung MPR RI datang suara peringatan. Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno meminta pemerintah benar-benar mewaspadai dampak lonjakan harga ini terhadap kondisi fiskal.
“Harga minyak pada asumsi makro APBN adalah 70 dolar AS per barel. Jika tembus di atas 100 dolar AS, defisit bisa melampaui 3,6 persen dari PDB,”
kata Eddy.
Ia melihat ancamannya lebih luas. Konflik di Timur Tengah berpotensi mengacaukan distribusi energi global. Negara-negara raksasa seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang selama ini bergantung pasokan dari sana, pasti akan mencari sumber baru. Nigeria, Angola, atau Brasil kemungkinan besar jadi incaran. Situasi ini bisa memaksa Indonesia yang butuh sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk bersaing ketat dengan negara-negara besar itu.
Risikonya jelas. Saat harga minyak naik dan rupiah melemah, beban impor energi kita akan membengkak. Data tahun 2025 menunjukkan, Indonesia mengimpor sekitar 17,6 juta ton minyak mentah dan 37,8 juta ton produk petroleum. Nilainya fantastis: 32,8 miliar dolar AS atau setara Rp551 triliun.
Karena itulah, Eddy menekankan, pemerintah harus punya kewaspadaan ekstra. Ketahanan fiskal dan ketersediaan pasokan energi di tengauh gejolak pasar global ini tak boleh dianggap enteng.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Hujan Guyur Sulawesi Selatan Sepanjang Hari, Waspada Potensi Angin Kencang
Mendagri Instruksikan Kepala Daerah Siaga Penuh Dua Pekan Saat Lebaran
Dua Pemuda Mabuk Jadi Tersangka Pengeroyolan Kapolsek Kaliwungu
Bupati Bone Gerak Cepat Atasi Kelangkaan Beras Jelang Lebaran