Derby Old Firm memang tak pernah mengecewakan. Minggu lalu, di babak perempat final Scottish Cup, Rangers dan Celtic kembali saling sikut dalam laga yang tegang dan penuh kontroversi. Hasil akhirnya? Celtic yang keluar sebagai pemenang, tapi mereka harus menunggu hingga adu penalti usai setelah 120 menit pertandingan berakhir tanpa gol.
Iya, skornya 0-0 sampai perpanjangan waktu habis. Tapi jangan salah, laga ini jauh dari kata membosankan. Dari awal, tensi sudah terasa. Rangers terlihat lebih banyak memegang kendali bola, menguasai sekitar 56% penguasaan. Tapi, seperti yang sering terjadi dalam derby, statistik kadang tak berarti banyak. Mereka kesulitan menciptakan peluang jernih; dari lima tembakan, cuma satu yang mengarah ke gawang.
Celtic sendiri sempat berpesta. Di menit ke-35, mereka berhasil membobol gawang lawan lewat serangan balik cepat. Suporter sudah mulai melompat-lompat, eh... tapi bendera offside belakangan dikibarkan. Setelah dicek VAR, gol itu dianulir. Rasanya seperti ditampar bagi para pemain dan suporter The Bhoys.
VAR, Lagi-lagi Jadi Bintang Kontroversi
Drama belum berhenti sampai di situ. Menjelang akhir babak perpanjangan waktu, giliran Rangers yang bersorak. Sekitar menit ke-100, terjadi keributan di depan gawang Celtic dan bola akhirnya masuk. Stadion Ibrox bergemuruh.
Namun, sorak-sorai itu meredup seketika. Wasit mendapat informasi dari VAR dan memutuskan untuk meninjau ulang. Beberapa detik yang mencekam itu berakhir dengan keputusan: gol tidak sah! Wasit menilai ada handball di prosesnya. Keputusan ini jelas memicu protes keras dan menambah panasnya atmosfer di lapangan.
Dua gol dibatalkan. Nol-nol tetap bertahan. Mau tak mau, nasib pertandingan harus ditentukan dari titik putih.
Dari Dua Belas Kaki, Celtic Lebih Dingin
Dan di adu penalti, Celtic menunjukkan mentalitas juara. Mereka tampil lebih kompak dan tenang. Empat eksekutor mereka Oxlade-Chamberlain, Trusty, Hatate, dan Cvancara semua sukses menunaikan tugas.
Rangers, di sisi lain, tampil gemetaran. Kapten mereka, James Tavernier, justru gagal mengeksekusi penalti pertama. Gassama juga tak berhasil. Hanya Bajrami dan Naderi yang bisa mencetak gol.
Skor akhir adu penalti: 4-2 untuk Celtic. Dengan itu, tiket ke semifinal Scottish Cup resmi mereka kantongi.
Old Firm, Selalu Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Pertandingan ini sekali lagi membuktikan kenapa Old Firm Derby dianggap salah satu rivalitas terkeras di dunia. Bukan cuma soal teknik atau taktik, tapi juga soal mental, gengsi, dan sejarah yang amat berat. Setiap insiden, setiap keputusan kontroversial, langsung disulut menjadi api besar.
Bagi Celtic, kemenangan dramatis ini tentu jadi modal berharga. Mereka masih punya peluang untuk meraih gelar Scottish Cup musim ini. Sementara Rangers harus pulang dengan kekecewaan dan rasa pilu, mengingat mereka sebenarnya cukup dominan namun tak mampu mengubahnya menjadi kemenangan.
Pertarungan ini sudah berakhir. Tapi di Glasgow, cerita antara hijau dan biru tak akan pernah benar-benar selesai.
Artikel Terkait
Dua Pelajar Tewas dalam Kecelakaan Maut di Perempatan Alun-Alun Purwodadi
Purbaya Bantah Isu APBN Hanya Rp120 Triliun, Tegaskan Kas Negara Masih Aman
Jakarta Pertamina Enduro Juara Proliga 2026 Usai Kalahkan Gresik Petrokimia 3-0
Mustamin Raga Jabat Posisi Baru di Gowa, Publik Harapkan Tata Kelola Pemerintahan Lebih Transparan