Polisi Gagalkan Peredaran 9 Ton Daging Beku Kadaluarsa Jelang Lebaran 2026

- Minggu, 08 Maret 2026 | 16:30 WIB
Polisi Gagalkan Peredaran 9 Ton Daging Beku Kadaluarsa Jelang Lebaran 2026

Menjelang Lebaran 2026, polisi berhasil menggagalkan upaya yang bisa dibilang sangat berbahaya. Satuan Resmob Bareskrim Polri menemukan dan menyita daging beku impor yang sudah kedaluwarsa siap diedarkan ke pasar-pasar tradisional. Bayangkan, barang yang tak layak konsumsi itu hampir saja sampai ke meja makan masyarakat.

Kombes Teuku Arsya Khadafi, Kasat Resmob Bareskrim, mengonfirmasi hal ini di Jakarta, Minggu (8/3/2026).

“Satuan Resmob Bareskrim telah melakukan penindakan terhadap seseorang yang mengedarkan daging beku impor kedaluwarsa ke pasar tradisional untuk dikonsumsi masyarakat yang akan melaksanakan perayaan Lebaran,” jelasnya.

Operasi itu tak main-main. Polisi mengamankan tiga unit truk yang penuh muatan. Total berat daging kadaluarsa yang disita mencapai 9 ton angka yang fantastis dan mengkhawatirkan.

“Saat ini diamankan tiga truk dengan barang bukti daging beku kadaluarsa seberat 9 ton. Saat ini para terduga dan barang bukti dibawa ke Bareskrim untuk diambil keterangan dan dikembangkan lebih lanjut,” tambah Arsya Khadafi.

Penyidikan masih terus berjalan. Polisi mendalami kemungkinan adanya jaringan distribusi lain di balik peredaran barang haram ini. Siapa dalangnya dan seberapa luas jaringannya, itu yang sedang ditelusuri.

Di sisi lain, situasi pasokan pangan secara umum terpantau lebih stabil. Andi Amran Sulaiman, Kepala Bapanas yang juga merangkap sebagai Mentan, menyebut harga komoditas pokok justru cenderung turun di pertengahan Ramadan ini. Memang ada beberapa barang yang harganya naik sedikit, tapi masih dalam batas wajar.

"Aku sudah cek tadi, masih relatif stabil. Ada naik daging ayam ras. Itu yang agak menguat sedikit, sesuai rapat inflasi. Relatif aman," ujarnya di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).

Menurut Amran, kenaikan marginal itu justru perlu dilihat sebagai sesuatu yang wajar. Tujuannya agar para produsen, seperti peternak, juga dapat merasakan manfaat ekonomi terutama saat mau menyambut Lebaran.

"Sudahlah kalau naik 0,6 persen, sayangilah juga peternak kita sedikit, supaya dia dapat baju lebaran. (Jadi) cabai rawit turun. Cabai merah, turun. Tadi bawang merah juga. Bawang putih juga turun," katanya.

Jadi, di teng upaya penjagaan ketat terhadap stabilitas harga, muncul ancaman lain yang bersembunyi: peredaran pangan tak layak. Tindakan tegas polisi ini setidaknya menjadi peringatan sekaligus penjaga gawang terakhir sebelum barang itu beredar luas.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar