Menkes Budi Gunadi Sadikin Jelaskan Cara Baca Label Nutri-Level untuk Batasi Gula Harian

- Kamis, 23 April 2026 | 14:40 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin Jelaskan Cara Baca Label Nutri-Level untuk Batasi Gula Harian

Label Nutri-Level yang digaungkan Menkes Budi Gunadi Sadikin masih ramai diperbincangkan. Banyak yang belum familier dengan sistem baru ini. Nah, di akun media sosialnya, Budi sendiri akhirnya membagikan cara membaca label tersebut.

Tujuannya sederhana: memudahkan kita mengecek asupan gula harian. Selama ini, informasi kandungan gula dalam satuan gram seringkali masih bikin bingung. Dengan label berhuruf dan berwarna, diharapkan semuanya jadi lebih intuitif.

“Saya tidak menyangka, satu gelas matcha ini isinya tiga sampai empat sendok gula,” ujar Budi.

“Makanya penting banget pasang label ini di setiap minuman siap saji, biar kalian tersindir dan tersadar,” tambahnya.

Ia merinci kategori-kategorinya. Level A, misalnya, untuk minuman tanpa pemanis tambahan seperti americano. Level B sudah mengandung gula alami atau tambahan sederhana, contohnya teh manis biasa. Nah, untuk Level C dan D, kandungan pemanis tambahannya lebih tinggi, seperti pada kopi susu atau minuman boba.

“Level C dan D, manis atau enggak manis, ada pemanis buatannya, itu tidak saya rekomendasikan setiap hari,” jelasnya tegas.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih bijak. Misalnya dengan meminta toko mengurangi kadar gulanya saat memesan.

Di sisi lain, BPOM memberikan penjelasan lebih lengkap. Nutri-Level sebenarnya tak hanya menunjukkan gula, tapi juga garam dan lemak sering disingkat GGL. Prinsipnya, semakin tinggi kandungan GGL, huruf labelnya semakin mundur dari A. Jadi A adalah yang terbaik.

Warna membedakannya dengan jelas. Hijau tua untuk A (kandungan GGL paling rendah), hijau muda untuk B (rendah), kuning untuk C (cukup tinggi, perlu kehati-hatian), dan merah untuk D (tinggi, harus dibatasi).

Sebelumnya, Budi pernah memberi contoh nyata. Satu gelas matcha frappe bisa saja mengandung 50 gram gula! Jumlah itu sudah menyamai batas konsumsi harian orang dewasa. Melalui kebijakan ini, harapannya jelas: masyarakat bisa mengambil keputusan yang lebih sehat saat membeli.

Tak hanya itu, langkah ini juga diharapkan bisa menekan risiko penyakit akibat konsumsi GGL berlebih. Memang ada kritik yang bermunculan dari sejumlah netizen. Namun, di balik itu, banyak yang menilai ini sebagai langkah awal yang baik untuk menyadarkan publik. Kesadaran itu penting, karena seringkali kita tak sadar berapa banyak gula yang kita telan sehari-hari.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar