Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pemerintah akan mengevaluasi kemungkinan penyesuaian APBN. Waktunya? Sekitar satu bulan ke depan.
Lonjakan harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini menjadi pemicu utamanya. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang memanas membuat harga komoditas energi itu meroket.
“Saya akan evaluasi selama satu bulan ke depan apa yang terjadi dan kami akan lakukan penyesuaian seperlunya,”
kata Purbaya kepada awak media di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Menurut sejumlah laporan, harga minyak Brent sempat menyentuh angka 118 dolar AS per barel. Level ini jadi yang tertinggi sejak pertengahan 2022. Pemicunya jelas: ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang kian memuncak.
Padahal, awal tahun ini situasanya jauh berbeda. Januari lalu, harga Brent masih berkutat di angka 64 dolar AS per barel. Kenaikannya memang drastis.
Meski begitu, Purbaya tampaknya tak ingin buru-buru panik. Ia menilai harga rata-rata minyak saat ini masih di bawah batas maksimal yang bisa ditanggung APBN. “Jangan cepat menyimpulkan harga akan 100 dolar AS terus. Kami akan asesmen dari waktu ke waktu,” ucapnya meyakinkan.
Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) memang ditetapkan di angka 70 dolar AS per barel. Hitung-hitungannya begini: setiap kenaikan ICP sebesar 1 dolar AS berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun. Bayangkan jika harga bertahan di kisaran 92 dolar AS sepanjang tahun. Defisit APBN bisa melebar hingga 3,7 persen dari PDB. Namun, Purbaya menegaskan pemerintah sudah siap dengan langkah mitigasi agar pertumbuhan ekonomi tidak ikut tersandung.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Hujan Guyur Sulawesi Selatan Sepanjang Hari, Waspada Potensi Angin Kencang
Mendagri Instruksikan Kepala Daerah Siaga Penuh Dua Pekan Saat Lebaran
Dua Pemuda Mabuk Jadi Tersangka Pengeroyolan Kapolsek Kaliwungu
Bupati Bone Gerak Cepat Atasi Kelangkaan Beras Jelang Lebaran