Ledakan besar mengguncang pusat kota Tel Aviv malam tadi. Menurut sejumlah saksi, suara dentuman keras terdengar menyusul hantaman rudal yang diluncurkan Iran. Serangan balasan ini tak datang sendirian; ia adalah jawaban atas serangan Israel sebelumnya yang menyasar bandara internasional dan fasilitas minyak di Teheran.
Siaran langsung sebuah televisi Inggris sempat merekam mencekamnya situasi itu. Di layar, cahaya ledakan terang membelah langit malam di atas wilayah perkotaan yang padat. Serangan terjadi dalam gelap, menambah suasana panik.
Garda Revolusi Iran dengan cepat mengklaim tanggung jawab. Mereka menyebut operasi militer ini sebagai "True Promise", sebuah operasi gabungan yang melibatkan drone dan rudal yang diarahkan ke berbagai target di Israel. Jenis rudal yang disebut-sebut digunakan pun beragam, mulai dari Emad, Ghadr, hingga Kheibar yang disebut-sebut sebagai generasi terbaru.
Di sisi lain, respons Israel pun berjalan. Sirene peringatan meraung-raung di penjuru Tel Aviv, memaksa warga berlarian mencari perlindungan ke bunker terdekat. Suasana kota langsung berubah mencekam.
Namun begitu, sistem pertahanan udara Iron Dome mereka diklaim bekerja dengan cukup efektif. Militer Israel menyatakan sebagian besar rudal yang datang berhasil dicegat. Kabar baiknya, pemerintah setempat mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Meski demikian, trauma dan ketakutan jelas tertinggal.
Ketegangan antara Teheran dan Tel Aviv memang sudah memanas belakangan ini. Aksi saling serang dengan rudal dan drone ini bukan hanya urusan dua negara, tetapi sudah merambah dan melibatkan dinamika rumit di kawasan Teluk. Situasinya benar-benar rentan.
Sementara situasi keamanan memanas, ada pula cerita lain yang mengalir. Sejumlah warga asing berhasil dievakuasi dari Iran melalui jalur darat. Mereka menuju perbatasan Turkmenistan dengan dibantu oleh pihak berwenang Iran.
Sesampainya di Turkmenistan, puluhan orang mulai dari turis asal Kanada dan China hingga para mahasiswa mendapatkan bantuan selama masa transit mereka. Rasa lega jelas terlihat.
Seorang di antara mereka bercerita tentang pengalamannya.
“Kami datang dari Iran menuju perbatasan. Mereka bersikap sangat ramah kepada kami dan mengawal perjalanan kami dari perbatasan sampai ke sini,” ujarnya, menggambarkan proses evakuasi yang dialaminya.
Setelah beristirahat sejenak, rombongan ini kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke negara masing-masing. Mereka terbang dari Bandara Ashgabat, meninggalkan ketegangan di belakang, setidaknya untuk sementara waktu.
Artikel Terkait
Tarif Rp1 Berlaku untuk Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta pada 24 April 2026
Bulog Pastikan Stok Beras dan MinyaKita Aman untuk Bantuan Pangan Februari-Maret 2026
Ketua PGI Sebut Video Ceramah Jusuf Kalla Dipelintir untuk Adu Domba Umat Beragama
Khalid Basalamah Akui Terima Rp8,4 Miliar dari PT Muhibbah, Klaim Hanya Korban Kasus Kuota Haji