Serangan presisi itu sendiri hanya berlangsung sekitar 60 detik. Dilakukan oleh jet tempur Israel F‑35 dan F‑15 dengan dukungan sistem AS. Senjatanya beragam, dari bom "bunker-buster", rudal jelajah, hingga JDAM bom pintar berpemandu GPS yang mengubah bom biasa menjadi senjata mematikan.
Target utamanya adalah bunker bawah tanah yang berfungsi sebagai pusat komando militer. Beberapa hari setelah Khamenei wafat, 50 jet tempur Israel bahkan kembali menyerang dan menjatuhkan sekitar 100 bom untuk memastikan bunker itu hancur total. Istri Khamenei dilaporkan meninggal beberapa hari kemudian akibat luka-luka serangan tersebut.
Respons Iran pun tidak main-main. Mereka membalas dengan serangan rudal ke Tel Aviv dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Dari sisi teknologi, AS memamerkan kekuatannya dengan pesawat siluman F‑35 dan B‑2, dilengkapi rudal Tomahawk serta bom pintar. Israel mengandalkan sistem pertahanan udara Iron Dome dan pesawat F‑35I. Sementara Iran membalas dengan rudal balistik seperti Shahab-3 dan drone kamikaze Shahed-136, didukung sistem pertahanan udara Bavar-373 buatan mereka sendiri.
Dampak politik di dalam negeri Iran langsung terasa. Mereka membentuk Dewan Kepemimpinan sementara yang beranggotakan Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua MA, dan ulama senior. Tugasnya memilih pemimpin tertinggi baru. Putra Khamenei, Mojtaba, disebut-sebut sebagai kandidat kuat.
Konflik ini jelas bukan cuma dua negara. Iran didukung Rusia dan Hezbollah, sementara Israel punya backing kuat dari AS. Beberapa analis memprediksi skenario terburuk, seperti "regime change" di Iran atau bahkan perang regional yang melibatkan Lebanon dan Teluk. Jika Hezbollah turun sepenuhnya, risiko perang nuklir taktis bukan mustahil.
Dampak globalnya sudah bisa ditebak: harga minyak melonjak karena jalur perdagangan di Teluk terganggu. Ketegangan dunia otomatis naik beberapa tingkat.
Pada akhirnya, pembunuhan Ali Khamenei ini adalah serangan "pemenggalan" terbesar terhadap kepemimpinan Iran. Operasi gabungan CIA-Mossad ini jelas bagian dari strategi untuk melemahkan Iran dari dalam. Saya memprediksi, tindakan ini justru akan memperpanjang perang dan memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Perang era sekarang tidak hanya mengandalkan intelijen manusia, tapi juga perang cyber seperti virus Stuxnet yang pernah menginfeksi fasilitas nuklir Iran dan pengawasan drone untuk memetakan pola hidup target. Saya juga menengarai adanya sabotase internal, mengingat rekam jejak Mossad yang pernah mencuri arsip nuklir Iran dari gudang rahasia di Teheran.
Yang paling mengkhawatirkan bagi kita adalah dampak krisis energi. Selat Hormuz adalah jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia, termasuk ke Indonesia. Jika benar cadangan BBM kita tinggal 20 hari seperti yang disebut Bahlil Lahadalia, maka momentum mudik Lebaran nanti bisa berujung pada krisis energi serius.
Pemerintah harus sigap dan cerdas dalam menyikapi ini. Jangan cuma omong besar tanpa tindakan nyata. Situasinya sudah sangat genting.
Artikel Terkait
Amran: Swasembada Beras Tercapai dalam Setahun, Dukung Ribuan Warga Sulsel Buka Puasa
DPR Desak Pemerintah Pastikan Stok BBM dan Kesiapan Transportasi untuk Mudik Lebaran 2026
Kementan Gelar Talkshow untuk Cegah Panic Buying Jelang Ramadan
Sheila Dara Aisha Antar Vidi Aldiano ke Peristirahatan Terakhir di Tengah Hujan Deras