Dr. KRMT Roy Suryo, MKes
Pemerhati Telematika, Multimedia, AI dan OCB Independen
Kunjungan saya ke Rumah Duta Besar Iran untuk Indonesia di Menteng, Kamis lalu, ternyata memunculkan permintaan yang tak terduga. Di tengah suasana duka atas wafatnya Pemimpin Spiritual Iran, Ali Hosseini Khamenei, sejumlah pihak meminta saya membuat analisis telematika terkait peristiwa itu. Almarhum, yang lahir pada 1939 itu, dilaporkan meninggal setelah digempur Amerika akhir Februari lalu.
Saya sendiri sudah menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada Dubes Mohammad Boroujerdi. Lalu berdoa di tempat yang disediakan, menuliskan pesan di kertas khusus, dan ikut menandatangani papan tanda tangan bersama pengunjung lain. Suasana saat itu hening, penuh khidmat.
Sebenarnya, saat diminta, saya sempat ragu. Soalnya, pasti sudah banyak yang membahas sisi teknis operasi militer itu. Apalagi, perhatian publik masih tertuju pada kasus ijazah yang dari analisis telematika dinyatakan 99,9% palsu. Tapi, setelah saya amati pemberitaan sepanjang minggu ini baik di media mainstream maupun alternatif nyaris tidak ada analisis telematika yang mengupas tuntas. Bahkan bisa dibilang nihil.
Nah, tanpa bermaksud mengalihkan fokus dari kasus ijazah yang semakin mengerucut terutama setelah terbitnya buku JWP saya akhirnya memutuskan untuk menulis. Analisis ini tetap mengedepankan teori ilmiah dan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.
Latar belakang peristiwa ini tentu saja konflik panjang antara Iran melawan Israel dan AS, yang memanas sejak 2024. Pemicunya berlapis. Pertama, soal program nuklir Iran yang pengayaan uraniumnya sudah di atas 60%, mendekati level senjata. Israel jelas was-was, menganggap Iran hampir punya kemampuan "nuclear breakout".
Kedua, ada faktor proxy atau perwakilan perang di regional. Iran diketahui mendukung penuh Hizbollah, Hamas, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman. Mereka membentuk apa yang disebut "Axis of Resistance", yang posisinya berseberangan 180 derajat dengan Israel.
Konflik diam-diam sudah berjalan bertahun-tahun lewat sabotase fasilitas nuklir, serangan drone, dan perang cyber. Namun ketegangan itu akhirnya meledak jadi konflik terbuka pada 2025-2026. Puncaknya adalah operasi pembunuhan terhadap Ali Khamenei tanggal 28 Februari lalu.
Menurut sejumlah laporan intelijen dan media internasional, operasi ini adalah jenis "Decapitation strike" serangan untuk memenggal kepemimpinan. Terjadi sekitar pukul 08.10 waktu setempat, di kompleks kediaman almarhum. Korban tidak hanya Khamenei, tapi juga sejumlah pejabat militer Iran, total sekitar enam orang.
Lalu, bagaimana tahapannya? Operasi semacam ini tentu diawali dengan pengumpulan data intelijen yang sangat masif. Kabarnya, CIA dan Mossad terlibat langsung. CIA menyuplai data geolokasi pertemuan elite Iran di kompleks tersebut.
Data itu didapat dari SIGINT, yaitu intersepsi sinyal komunikasi dan elektronik. Ditambah lagi dengan satelit pengintai, drone stealth, dan agen Mossad yang bekerja di dalam Iran.
Metodenya sendiri merupakan gabungan dari beberapa teknik canggih: analisis pola hidup, pencitraan termal satelit, triangulasi ponsel, dan pengawasan drone. Tujuannya satu: memastikan sosok Khamenei benar-benar ada di lokasi sebelum serangan dilancarkan.
Artikel Terkait
Amran: Swasembada Beras Tercapai dalam Setahun, Dukung Ribuan Warga Sulsel Buka Puasa
DPR Desak Pemerintah Pastikan Stok BBM dan Kesiapan Transportasi untuk Mudik Lebaran 2026
Kementan Gelar Talkshow untuk Cegah Panic Buying Jelang Ramadan
Sheila Dara Aisha Antar Vidi Aldiano ke Peristirahatan Terakhir di Tengah Hujan Deras