Berbeda dengan kasus korupsi miliaran atau triliunan rupiah. Masyarakat, lanjut Ray, tidak hanya sulit membayangkan jumlahnya, tetapi juga sering tidak merasa bahwa uang negara yang dikorupsi itu sebenarnya adalah uang mereka juga.
"Itu yang membuat orang tidak peka dengan gerakan antikorupsi, karena menganggap bukan uang mereka. Dianggap itu duit negara bukan duit mereka," tuturnya.
Visualisasi dan Kontekstualisasi Nilai Uang
Ekspos fisik uang sitaan, menurut Ray, berhasil memecah tembok abstraksi tersebut. Masyarakat yang sebelumnya tidak pernah melihat wujud Rp6,6 triliun, akhirnya mendapat gambaran nyata tentang besarnya kerugian negara.
"Dengan adanya ekspose, menurut Ray, masyarakat jadi mengetahui sebanyak apa uang Rp.6,6 triliun. Sebelumnya, mereka tidak bisa membayangkan sebanyak apa itu uang Rp6,6 triliun karena mereka tidak pernah melihat. Kalau dipertontonkan baru mereka tahu, oh sebanyak itu," jelasnya.
Untuk memperdalam pemahaman ini, Ray pun menawarkan saran. Ia mengusulkan agar besaran uang sitaan tidak hanya ditampilkan, tetapi juga dikontekstualisasikan dengan kebutuhan riil masyarakat.
Ray pun menyarankan besaran uang sitaan korupsi ke publik bisa difaktualkan, misalnya, uang sebesar Rp1 miliar bisa digunakan untuk membeli berapa ton beras.
Artikel Terkait
Barcelona Tumbang 0-2 dari Atletico Madrid di Leg Pertama Perempat Final
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pimpinan Sindikat Pencucian Uang yang Masuk Daftar Interpol
Polisi Ungkap Motif Judi Online di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Ibu Kandung di Lahat
Ayah di Batam Diduga Setubuhi Anak Kandungnya Sejak Usia 7 Tahun