Serangan Israel di Teheran Hancurkan Sinagoge Bersejarah dan Kampus Bergengsi

- Rabu, 08 April 2026 | 02:45 WIB
Serangan Israel di Teheran Hancurkan Sinagoge Bersejarah dan Kampus Bergengsi

Ledakan mengguncang Kota Teheran sebelum MURIANETWORK.COM, Selasa (7/4/2026). Gelombang serangan udara Israel kali ini menyasar titik-titik yang mengejutkan banyak pihak: landmark budaya dan akademik di jantung ibu kota Iran. Bukan fasilitas militer, melainkan rumah ibadah dan kampus bergengsi yang jadi sasaran. Hal ini, tentu saja, langsung memicu kecaman dari berbagai penjuru.

Di antara lokasi yang hancur, ada Sinagoge Yahudi Raffi Nia. Rekaman video yang beredar menunjukkan bangunan itu nyaris rata dengan tanah. Suara mesin berat masih terdengar di lokasi, di mana tim penyelamat berjuang mengangkat puing-puing reruntuhan.

Homayoun Sameh Yah Najafabadi, perwakilan komunitas Yahudi di Parlemen Iran, bersuara lantang. Ia menyayangkan kejadian ini.

"Sinagoge Raffi Nia bukan cuma tempat kami beribadah. Ini adalah situs bersejarah, warisan berharga bagi seluruh rakyat Iran dan khususnya komunitas Yahudi di sini," ujarnya.

Najafabadi tak ragu menuding serangan itu sengaja dan penuh dendam. Menurutnya, ini adalah balasan atas kritik pedas yang kerap dilontarkan komunitas Yahudi Iran terhadap kebijakan pemerintah Israel.

Namun begitu, sinagoge bukan satu-satunya korban. Sehari sebelumnya, serupa terjadi di Universitas Teknologi Sharif. Kampus ternama itu dilaporkan mengalami kerusakan parah di beberapa gedung departemennya.

Rektor universitas, Masoud Tehranchi, mengonfirmasi insiden tersebut. "Beberapa fasilitas rusak berat," katanya. Syukurlah, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam serangan ke kampus itu.

Ia lalu menegaskan poin penting: targetnya adalah fasilitas sipil. Tehranchi melihat serangan ini sebagai upaya yang disengaja untuk melumpuhkan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan Iran. Universitas Sharif, yang berdiri sejak 1966, adalah simbol dari capaian itu.

Jadi, narasinya jelas. Serangan dini hari itu meninggalkan dua luka sekaligus: satu di tubuh sejarah dan keagamaan, satunya lagi di jantung pendidikan dan masa depan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar