Di tengah ketegangan global yang memanas akibat konflik di Timur Tengah, pemerintah Indonesia justru menyuarakan optimisme. Klaimnya, ketahanan pangan dalam negeri berada dalam posisi yang kuat dan aman. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, atau yang akrab disapa Zulhas.
Menurutnya, pemerintah berhasil mengakselerasi program-program prioritas di sektor pangan dengan cukup impresif. Salah satu capaian yang dia sebut adalah swasembada pangan. “Kita sudah swasembada pangan, alhamdulillah,” ujar Zulhas.
Dia melanjutkan, “Kalau makan aman kita, walaupun ada masalah di internasional, geopolitik, ada peperangan, tapi soal makan aman. Stok beras kita melimpah dan lain-lain lebih dari cukup ya, karena antisipasi yang tepat tadi.”
Pernyataan itu disampaikannya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa lalu. Zulhas tampak percaya diri. Dia menilai kesiapan Indonesia jauh lebih baik dibanding banyak negara lain yang masih kelabakan menghadapi tekanan global ini. Meski begitu, dia mengakui bahwa dampak situasi internasional tetap terasa di beberapa sektor, hanya saja fondasi pangan kita dinilai kokoh.
Kokohnya fondasi itu, lanjut Zulhas, tidak datang begitu saja. Ia dibangun dari serangkaian penguatan menyeluruh. Mulai dari sektor pangan pokok, peternakan, perikanan, hingga perdagangan. Tak ketinggalan, program strategis seperti hilirisasi dan Makan Bergizi Gratis (MBG) disebutnya sebagai pilar penting untuk menjaga stabilitas nasional di masa penuh ketidakpastian ini.
Lalu, bagaimana dengan isu harga dan ketersediaan beras yang selalu sensitif? Zulhas menegaskan bahwa kedua hal itu dalam kondisi terkendali. Harganya stabil, stok nasional pun mencukupi. Bahkan, ancaman El Nino yang dikhawatirkan banyak pihak tahun ini sepertinya tidak menggoyahkan keyakinannya.
“Beras aman, ya tidak ada kenaikan apa pun, stok cukup,” katanya dengan tegas.
Dia bahkan berani memproyeksikan lebih jauh. “Sampai tahun 2026 insyaallah beras kita aman ya, bahkan saya kira 2027 insyaallah.”
Klaim-klaim optimistis ini tentu menjadi angin segar di tengah laporan-laporan suram dari berbagai belahan dunia. Namun begitu, efektivitas antisipasi jangka panjang dan kesiapan menghadapi gangguan alam yang ekstrem tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus dibuktikan.
Artikel Terkait
Petinggi BCA Borong Saham Sendiri di Tengah Tekanan Jual
IMF Peringatkan Utang AS Capai 125% PDB, Butuh Penyesuaian Fiskal Terbesar
Cerebras Systems Ajukan IPO di Nasdaq Didukung Komitmen Besar OpenAI
Harga Minyak Sawit Malaysia Melemah, Dihantam Permintaan Lesu dan Anjloknya Harga Minyak Dunia