Dari podium di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik pedas terhadap cara berpikir pembangunan yang selama ini dominan. Menurutnya, fokus yang berlebihan pada angka pertumbuhan ekonomi semata sudah saatnya dipertanyakan ulang.
Pidato itu disampaikannya Senin lalu, dalam acara Peresmian 166 Sekolah Rakyat. Suasana di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosian (BBPPKS) itu hangat, dihadiri perwakilan dari 34 provinsi.
Prabowo secara khusus menyasar pemikiran neoliberal. Gagasan bahwa kesejahteraan akan otomatis "menetes ke bawah" jika pertumbuhan ekonomi dijaga, ia anggap sebagai teori yang jauh dari realitas.
Ucapannya blak-blakan, disambut riuh tepuk tangan. Baginya, pendekatan semacam itu jelas tidak cocok untuk Indonesia. Negeri ini punya sejarah panjang sebagai bangsa terjajah yang merdeka lewat perjuangan berdarah-darah.
Artikel Terkait
Prabowo Minta Guru Sekolah Rakyat Tampil Rapi, Bisa Libatkan TNI-Polri
Di Balik Pasal 397 KUHP Baru: Perlindungan atau Kriminalisasi bagi Nikah Siri?
Enam Jam Terjebak Macet: Perjalanan Cibinong-Kuningan yang Berubah Jadi Ujian Kesabaran
Anggaran Rp113 Miliar untuk Penataan Rasuna Said Dikritik: Mark Up atau Hitungan Keliru?