Prabowo Tepis Teori Menetes ke Bawah: Kesejahteraan Rakyat Bukan Cuma Angka Pertumbuhan

- Senin, 12 Januari 2026 | 13:42 WIB
Prabowo Tepis Teori Menetes ke Bawah: Kesejahteraan Rakyat Bukan Cuma Angka Pertumbuhan

Dari podium di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik pedas terhadap cara berpikir pembangunan yang selama ini dominan. Menurutnya, fokus yang berlebihan pada angka pertumbuhan ekonomi semata sudah saatnya dipertanyakan ulang.

Pidato itu disampaikannya Senin lalu, dalam acara Peresmian 166 Sekolah Rakyat. Suasana di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosian (BBPPKS) itu hangat, dihadiri perwakilan dari 34 provinsi.

Prabowo secara khusus menyasar pemikiran neoliberal. Gagasan bahwa kesejahteraan akan otomatis "menetes ke bawah" jika pertumbuhan ekonomi dijaga, ia anggap sebagai teori yang jauh dari realitas.

"Jadi saudara-saudara! Cara berpikir dan cara berpikir tentang bernegara, cara berpikir tentang pembangunan yang konvensional yang normatif adalah membangun pertumbuhan dan ada pemikiran selama ini ya, pemikiran neoliberal biar yang kaya biarin aja 0,1% lama-lama menurut teori ini karena pertumbuhan, kekayaan menumpuk nggak apa-apa menumpuk di atas lama-lama akan menetes ke bawah, ah ini teori, tapi nyatanya netesnya kapan sampai ke bawah, jangan-jangan netesnya 300 tahun, kita sudah mati semua,"

Ucapannya blak-blakan, disambut riuh tepuk tangan. Baginya, pendekatan semacam itu jelas tidak cocok untuk Indonesia. Negeri ini punya sejarah panjang sebagai bangsa terjajah yang merdeka lewat perjuangan berdarah-darah.

Ia mengingatkan sebuah fakta pahit. Saat kemerdekaan diraih, mayoritas rakyat Indonesia hidup dalam kondisi serba kekurangan. Hampir tak punya apa-apa.

"Ini menurut saya tidak tepat untuk kita, untuk negara seperti kita yang pernah dijajah, yang merdeka karena perjuangan merdeka karena ratusan tahun perjuangan, di mana waktu kita merdeka ya sebagian besar rakyat kita ia tidak punya apa-apa. Kemudian kita bangun, bagus pertumbuhan ternyata kalau kita hanya mengejar pertumbuhan dan tidak melihat, tidak berani melihat pertumbuhan ini benar-benar dirasakan enggak oleh rakyat yang paling bawah?"

Nah, di titik inilah peran pemimpin menjadi krusial. Prabowo menegaskan, tanggung jawab utama para pemimpin adalah memastikan kemakmuran itu benar-benar sampai ke tangan orang kecil. Bukan sekadar angka di atas kertas.

Ia menutup dengan penekanan pada keberanian.

"Di situ, di situ tugas para pemimpin. Kita harus berani melihat, Kita harus berani melihat kekurangan kita, dan kita harus ambil langkah, langkah Kita harus berani,"

Pidato itu seperti tamparan. Sebuah ajakan atau lebih tepatnya, seruan untuk menggeser paradigma. Dari sekadar mengejar pertumbuhan, menjadi memastikan keadilan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar