Ketua Ikatan Keluarga Bintan Prihatin atas Penusukan Mahasiswi UIN Suska Jelang Sidang Skripsi

- Jumat, 27 Februari 2026 | 08:30 WIB
Ketua Ikatan Keluarga Bintan Prihatin atas Penusukan Mahasiswi UIN Suska Jelang Sidang Skripsi

Jakarta - Suasana haru dan prihatin menyelimuti pernyataan Hasyim Aliwa, Ketua Ikatan Keluarga Bintan Riau. Ia menyampaikan keprihatinan mendalamnya terkait aksi kekerasan yang menimpa seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska). Peristiwa itu terjadi justru di saat sang mahasiswi bersiap untuk menjalani sidang skripsinya.

“Ini peristiwa yang sangat menyayat hati,” ujar Hasyim kepada wartawan, Kamis (26/2).

“Adik kita ini sedang berada di fase penting hidupnya, hendak sidang skripsi, tetapi justru menjadi korban kekerasan brutal. Ini bukan hanya luka fisik, ini luka batin dan luka bagi semua.”

Menurut keterangan yang beredar, pelaku yang diduga punya hubungan pribadi dengan korban datang tiba-tiba. Tanpa banyak basa-basi, penyerangan dengan senjata tajam pun terjadi. Akibatnya cukup parah: korban mengalami luka serius di bagian kepala dan tangannya. Ia langsung dilarikan ke RSUD Arifin Ahmad untuk mendapatkan perawatan mendesak. Sementara itu, pelaku sudah diamankan polisi dan proses hukum sedang berjalan.

Di sisi lain, Hasyim menegaskan bahwa duka ini dirasakan bersama oleh masyarakat Bintan. Bagaimanapun, korban adalah bagian dari generasi muda yang sedang berjuang. Dia merantau untuk menuntut ilmu, membawa beban harapan keluarga dan kampung halamannya.

“Kekerasan seperti ini tidak boleh dianggap persoalan pribadi semata,” tegasnya.

“Ini persoalan kemanusiaan.”

Ia pun punya pesan keras untuk aparat. Hasyim meminta kasus ini ditangani secara tegas dan transparan. “Kami percaya proses hukum akan berjalan. Tetapi pesan kami jelas: tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, apalagi terhadap perempuan. Ini harus menjadi peringatan keras bagi siapa pun,” katanya.

Lebih dari sekadar tuntutan hukum, Hasyim mengajak generasi muda untuk mengambil pelajaran. Menurutnya, masalah hubungan asmara atau emosi sesaat tak boleh diselesaikan dengan cara-cara brutal. “Kalau ada masalah, selesaikan dengan dialog, dengan kepala dingin,” imbaunya.

“Jangan pernah membiarkan amarah mengalahkan akal sehat. Satu tindakan nekat bisa menghancurkan masa depan banyak orang.”

Ikatan Keluarga Bintan Riau sendiri berjanji akan terus memantau kondisi korban. Dukungan moril akan diberikan kepada keluarga yang sedang berdua. Saat ini, mahasiswi tersebut masih menjalani perawatan intensif. Harapannya, kondisi kesehatannya lekas membaik sehingga ia bisa kembali meraih cita-cita yang sempat tertunda oleh aksi tak berperikemanusiaan itu.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar