Ledakan mengguncang Beirut hingga ke wilayah selatan Lebanon, Kamis pagi. Serangan udara Israel itu, menurut laporan awal, menewaskan sedikitnya 254 orang. Korban luka-luka bahkan lebih banyak lagi, mencapai lebih dari 1.165 orang. Situasinya kacau balau.
Rumah sakit-rumah sakit kewalahan. Mereka sudah mengeluarkan imbauan mendesak, meminta warga untuk mendonorkan darah. Begitu banyak korban berdatangan, sistem kesehatan setempat nyaris kolaps. Sumber-sumber dekat dengan Hizbullah menyebut, ini adalah konsekuensi dari kelompok itu menjadi target utama Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Media lokal Al-Mayadeen melaporkan, serangan tidak hanya terpusat di ibu kota. Daerah pemukiman padat penduduk di pinggiran selatan Beirut, Saida, Nabatieh, hingga Bekaa di timur juga jadi sasaran. Palang Merah Lebanon memperkirakan angka korban tewas bisa menyentuh 300 jiwa. Sementara Reuters, mengutip sumber keamanan, menyebut setidaknya 12 orang tewas hanya dalam satu serangan di lingkungan padat Beirut.
Ini digambarkan sebagai bombardir terberat sejak Israel memulai agresinya awal Maret lalu. Yang ironis, serangan dahsyat ini terjadi hanya beberapa jam setelah Iran dan AS menyepakati gencatan senjata 15 hari. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan itu konon juga mencakup penghentian agresi terhadap Lebanon.
Namun begitu, Israel tampaknya punya agenda lain.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya sudah bersikeras bahwa Lebanon tidak akan dimasukkan dalam gencatan senjata. Sikap itu dipertegas oleh Kepala Staf mereka, Eyal Zamir. Usai serangan Rabu, Zamir mengatakan rezimnya akan terus menyerang Lebanon dan memanfaatkan setiap peluang operasional yang ada.
Agresi yang berlangsung lebih dari sebulan ini telah memakan korban ratusan nyawa. Hampir satu juta orang terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah mereka karena serangan yang tak pandang bulu. Tapi, semua itu rupanya tidak membuat Hizbullah gentar. Kelompok itu mengindikasikan akan terus membela Iran dan perlawanan regional dalam perjuangan melawan AS dan Israel.
Di sisi lain, suara dari dalam parlemen Lebanon mencoba membaca ulang motif serangan ini.
“Rezim Israel berusaha menghindari keputusan gencatan senjata terkait front Lebanon. Ini upaya mereka untuk mengimbangi kekalahannya dalam agresi terhadap Iran,”
kata Hassan Fadlallah, anggota blok Loyalitas kepada Perlawanan.
Menurutnya, Israel gagal mencapai tujuannya dan akhirnya terpaksa menerima keputusan AS untuk menghentikan perang. Tapi, kata Fadlallah lagi,
“Kejahatan Israel di Lebanon tidak akan bisa menghapus citra kekalahannya di hadapan Iran. Juga tidak bisa menutupi mundurnya pasukan mereka sebelum mencapai Sungai Litani.”
Konflik ini, yang sejak awal melibatkan Amerika Serikat dan Iran, kini memasuki babak baru yang lebih kelam. Beirut, kota yang sudah terlalu sering terluka, kembali menyaksikan pilu. Sementara ancaman serangan lebih lanjut masih menggantung di udara, bersama asap dan debu dari reruntuhan.
Artikel Terkait
Persija Jakarta Resmi Gunakan Bus Listrik untuk Armada Tim Mulai Liga Super 2026/2027
Gangguan Listrik di Jalur Commuter Line Duri–Tangerang Ganggu Perjalanan Sore Hari
Pemerintah Tetapkan Libur Idul Adha 2026 pada 27-28 Mei, Jumat 29 Mei Tetap Hari Kerja
11 Pelajar Jakarta Wakili Indonesia Tampilkan Tari Saman di Festival Tari Internasional Busan 2026