Berdasarkan pengalamannya menangani klien, Yodhi melihat cukup banyak generasi sandwich yang tidak pernah terbuka soal batas kemampuan mereka. Akibatnya, setiap permintaan dari orang tua atau saudara berusaha dipenuhi, sekalipun harus berutang. Niat berbakti dan membantu keluarga tentu sesuatu yang mulia, namun jika dilakukan tanpa batas yang jelas justru dapat menimbulkan masalah keuangan yang serius bagi individu tersebut.
“Jadinya kita sebagai individu jadi terluka, terbebani karena dia tidak berani jujur, akhirnya utangnya malah jadi banyak. Jadi, kita terbuka dengan orang yang terdekat kita agar dia tahu kemampuan kita berapa per bulan,” tegasnya.
Mengendalikan Emosi dan Pengeluaran
Selain komunikasi, Yodhi juga memberikan saran praktis untuk mengelola pengeluaran pribadi. Ia menyoroti bahwa dalam berbelanja, emosi seringkali lebih dahulu terpancing daripada logika. Oleh karena itu, memberikan jeda sebelum mengambil keputusan belanja adalah strategi yang efektif.
Menunda keputusan, misalnya satu menit untuk menenangkan diri atau bahkan 24 jam untuk meminta pertimbangan orang terpercaya, dapat membantu berpikir lebih rasional. Cara ini dianggap ampuh untuk menghindari jebakan tren seperti YOLO (You Only Live Once) atau FOMO (Fear of Missing Out) yang mendorong pengeluaran impulsif.
“Jangan semuanya lari ke hal-hal yang kita memang pengen aja. Nah, kalau kita sudah bisa mengontrol hal-hal yang seperti itu sudah sangat bagus banget, itu berarti kita sudah sangat cerdas dalam mengontrol pikiran kita,” tutup Yodhi.
Dengan kombinasi antara kejujuran pada keluarga dan kedisiplinan pada diri sendiri, generasi muda diharapkan dapat lebih tangguh menghadapi tekanan keuangan di awal karier mereka.
Artikel Terkait
Ledakan Tabung Gas di Pabrik Gizi Ngawi Lukai Satu Pekerja
Kedubes Iran Kunjungi Keluarga di Kampar yang Beri Nama Bayi Ali Khamenei
Wamen Pertanian Soroti Impor Gula Rafinasi Tekan Harga Petani
Tersangka Peragakan Ulang Pembunuhan Sadis dan Pemotongan Mayat di Brebes