Hal teknis seperti perawatan rumput lapangan pun tak luput dari perhatiannya. Appi bilang, hal-hal semacam ini justru krusial. Soalnya, ini menyangkut kualitas pertandingan dan tentu saja, biaya operasional jangka panjang. “Kami pelajari detail alur perawatan, terutama rumput lapangan. Ini krusial karena berhubungan langsung dengan kualitas pertandingan dan biaya operasional jangka panjang,” tambahnya.
Di sisi lain, persiapan di Makassar sendiri sudah cukup matang. Aspek legal lahannya, yang kerap jadi masalah utama proyek pemerintah, sudah beres. Kepala Dinas Pertanahan Kota Makassar, Sri Sulsilawati, memastikan seluruh lahan seluas 23 hektare itu sudah bersertifikat dan bebas dari sengketa.
“Lahan yang siap dibangun kurang lebih 23 hektare dan sudah tersertifikasi. Ini untuk memastikan tidak ada masalah hukum di kemudian hari,” jelas Sri.
Dia juga mengungkapkan, proses sertifikasi sekarang jauh lebih ketat. Tak bisa lagi asal terbit. Harus ada dulu Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) dari Dinas Tata Ruang. Bahkan untuk lahan yang sempat dipinjam pakai pihak lain, sudah ada surat pernyataan yang mengukuhkannya sebagai aset Pemkot.
“Sekarang tidak bisa langsung sertifikat terbit. Harus dipastikan dulu kesesuaian ruangnya melalui PKKPR,” ujarnya.
Dengan landasan hukum yang kuat, lelang yang berjalan, dan ilmu yang didapat dari JIS, optimisme Pemkot Makassar makin besar. Stadion Untia tak lagi sekadar impian di atas kertas. Ia diproyeksikan jadi ikon baru bukan cuma untuk olahraga, tapi juga penggerak ekonomi, hiburan, dan pariwisata kota. Tinggal menunggu realisasinya di tanah Untia.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran Picu Macet Parah 12 Jam di Jalur Arteri Cibadak, Sukabumi
Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar XXVI Hadirkan Gubernur dan Pengusaha Sherly Tjoanda
Gus Yaqut Kembali Ditahan KPK Usai Sempat Dapat Izin Tahanan Rumah
KPK Kembalikan Yaqut Cholil Qoumas ke Rutan Usai Tahanan Rumah