Tanpa oposisi yang solid, kekuasaan cuma diawasi oleh opini publik. Dan mari kita akui, daya tekan opini publik seringkali jauh lebih terbatas.
Kondisi ini melahirkan apa yang bisa disebut demokrasi elitis. Semua institusi berjalan: pemilu, partai, sidang parlemen. Tapi keputusan-keputusan penting justru makin terpusat dan minim perdebatan publik yang berarti. Aspirasi rakyat biasa makin jauh dari meja pengambilan keputusan.
Dalam atmosfer seperti ini, kritik gampang dicap sebagai pengganggu stabilitas. Aktivisme dilihat sebagai biang keributan. Padahal, dalam demokrasi sejati, stabilitas justru lahir dari kepercayaan publik. Dan kepercayaan itu cuma tumbuh kalau ada transparansi serta keberanian untuk dikritik habis-habisan.
Prabowo di Persimpangan
Prabowo Subianto sekarang ada di persimpangan sejarah. Dia bisa dikenang sebagai pemimpin yang sukses menjaga stabilitas sekaligus menguatkan demokrasi. Atau, sebaliknya, sebagai pemimpin yang mewariskan demokrasi tanpa oposisi sebuah demokrasi yang sunyi, tertib, namun rapuh di dalam.
Modalnya ada. Tidak membredel media adalah langkah bagus. Tapi modal itu akan tergerus kalau negara gagal membedakan antara kritik dan ancaman, antara oposisi dan permusuhan, antara aktivisme dan kriminalitas.
Pada akhirnya, demokrasi bukan soal betapa tenangnya permukaan negara. Ia soal seberapa kuat dasar negara itu menampung gelombang perbedaan pendapat.
Arahnya belum final. Semuanya masih bergerak, masih bisa dikoreksi. Tapi satu hal yang jelas: demokrasi tidak akan hidup cuma dengan stabilitas dan koalisi gemuk. Ia butuh oposisi. Butuh kritik. Butuh keberanian penguasa untuk mendengar suara-suara yang sumbang dan tidak nyaman.
Jika DPR tetap larut dalam kekuasaan, dan kritik publik terus dibalas dengan pendekatan hukum yang kaku, maka demokrasi Indonesia memang masih berjalan. Tapi jalannya pincang.
Dan sejarah nanti, seperti biasa, tak cuma mencatat siapa yang berkuasa. Tapi juga bagaimana kekuasaan itu diaplikasikan.
Artikel Terkait
Gus Yahya Tegaskan Visi NU Sejalan dengan Semangat Proklamasi
Gus Yahya Tegaskan Visi NU Sebagai Jiwa Republik di Harlah Satu Abad
Jokowi Pasang Kuda-kuda, Prabowo-Gibran Dua Periode Jadi Target Ketiga
Jalan Lintas Aceh Tengah–Bener Meriah Amblas, Tanah Bergerak Sejak 2002